Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Minggu, 27 November 2011

Toko Wijaya, tempat berburu komik bekas di Makassar

 Masih ingat ceritaku tentang Yoko Shoji? Juga tentang surat untuk Nakki kemarin? Jadi tak perlu saya jelaskan ulang tentang keduanya. Yang ingin kuceritakan saat ini adalah di mana saya bisa menemukan keduanya. Pertama kali, saat SMA, saya menemukan komik Pop Corn di salah satu penjual mainan anak di pasar Tempe, Sengkang. Di bagian depan tokonya ada sekardus komik bekas dipajang dengan label harga Rp.2500,- rata.
Kali kedua, saya menemukannya di Toraja, di agen majalah dan tabloid dekat pasar Makale, kebetulan menyediakan komik bekas juga. Saya bisa menambah koleksiku beberapa seri, meski harganya lebih mahal, yakni Rp.5.000,-. Dari Iwan (pemilik agen majalah itu), saya diberi informasi bahwa untuk menambah koleksiku, saya bisa mengunjungi toko Indah Jaya jalan Laiya dan Toko Wijaya (saya lupa nama jalannya, yang jelas depan sentral, jalur pete-pete B Makassar, kalau tidak salah sih jalan Timor).
Sekitar dua tahun lalu, waktu baru-baru jadian dengan Kurns, kami hobby hunting toko-toko buku waktu itu, mengunjungi Toko Wijaya. Dengan penuh harap, tapi ternyata tak ada satupun seri Pop Corn. Begitu juga di toko Indah Jaya. Nihil.
Sempat saya ingin membelinya melalui toko buku bekas online Dedo. Tapi lumayan mahal menurutku, jadi ditunda. Sampai saat bulan Januari kemarin, saat Kurns kembali dari Jakarta, membawakan setumpuk buku oleh-oleh, ada dua seri Pop Corn diantaranya. Sayangnya, karena salah komunikasi, seri yang dibelinya justru yang sudah kumiliki. Tapi tentu saja tak mengurangi rasa senangku. Dia berjanji, kalau ke Jakarta lagi akan membelikanku seri yang lengkap. Hehehe...
Nah, sekitar bulan lalu, saya bersama Sheni jalan-jalan ke Toko Wijaya. Iseng-iseng singgah sepulang memesan tiket buat traveling kami bulan Maret nantinya ;)
Iseng-iseng berhadiah ternyata, di sana sudah ada seri Pop Corn lengkap. Sampai kering gigiku gara-gara senyum puas melihat tumpukan komik itu. Tapi, ternyata pemirsa, saya harus membeli ke 26 seri jika ingin membelinya dengan harga Rp.5000,-/komik. Tentu saja saya hanya ingin membeli beberapa, seri yang belum kumiliki saja. Akhirnya saya pasrah dengan tawaran Rp.10.000,-/komik. Isi dompetku hanya cukup membeli dua saat itu.

Setelah kuceritakan pada Kurns, ternyata dia mau membelikan saya semua serinya saat terima gaji, cihuyyyy...
Namun, setelah gajinya di tanganku, entah memang tak jodoh, tiba-tiba dispenser ku rusak. Saya harus membeli baru, dengan konsekuensi batal membeli komik. Harus menabung lagi, atau menunggu Kurns berbaik hati membagi gajinya lagi, hahaha...
Jika ada yang mau mencari komik bekas, saya sarankan ke sana deh! Tapi jangan mencari plang TOKO WIJAYA di depan rukonya, karena kalian tak akan menemukannya :) Cukup cari di Jalan Timor nomor 116, kalau tidak salah, dan numpang tanya sana sini saja :)

NB:Dan jika kalian berbaik hati, belikan saya seri Pop Corn selain 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 17, dan 20) hehehe...ayolah :)

Sabtu, 26 November 2011

5 hal penting saat SMP


Kemarin saya kaget pas cek blog, kenapa tiba-tiba si HimaRain menuliskan pesan dalam chat box ku tentang PR?
Setelah cek ke blognya, ternyata PR yang dimaksud adalah ‘menuliskan 5 pengalaman pas SMP’.
Tentu saja saya tak butuh waktu lama mengingat semuanya, karena bahkan lebih dari 5 pengalaman ter-seru ku selama SMP. Dan pastinya sangat susah dilupakan (hihihi…lebay)
Langsung langsing mi nah…
1.       Poin 1 dan 2 ini adalah pengalaman waktu saya masih SMP di Makassar, tepatnya di Spensa Makassar jalan Baji Areng. Pertama kalinya saya bolos sekolah waktu SMP ini, kelas satu, masih status siswa baru (masih hangat malah…pisang goreng kapang?). Tapi bukan bolos belajar melainkan bolos Pesantren Kilat yang diadakan OSIS saat bulan puasa. Hari itu adalah hari pertama puasa dan bertepatan dengan ulang tahunku yang ke-12 kalau tak salah. Si Masdar sang ketua kelas yang menginisiasi bolos barengnya, kita ramai-ramai ke Mall Ratu Indah sekedar cuci mata dan pulang. 
2.       Saya membawa buku Biografi Nike Ardilla yang baru dibeli oleh tanteku ke sekolah, untuk kuperlihatkan ke temanku Siti Ainal (kalau tak salah, dia salah satu pengagumnya). Tapi saya lupa mengambilnya di laci meja. Besoknya, buku itu sudah hilang. Sampai sekarang orang di rumah tidak tahu kalau saya yang menghilangkannya, hihihi…mudah-mudahan tak ada keluargaku yang membaca postingan ini (licik :p).
3.       Poin ke-3 sampai 5, tentang keberadaanku di SMP Negeri 2 Pitumpanua, saya pindah ikut mamaku pulang kampung. Awalnya, saya mengira akan jadi anak pindahan yang tak punya teman. Ternyata, hari pertama saya disambut baik sama teman-teman yang hingga saat ini kami masih menjalin persahabatan erat. Kami menamakan kelompok kami ‘Star Five’ hahhay. Mereka adalah Wulan, Cemma, Wana, Tuti. Belakangan bertambah satu yaitu Cimma.
4.       Seperti si Hima Rain, saya pertama kali suka sama seseorang pada saat SMP kelas 2, sebut saja dia Edeb. Hihihi…tapi kami tak sempat pacaran meski sebenarnya saling tahu. Dia juga punya genk (Yosep, Hamzah, Bahtiar, Aswar) dan kedua genk (ciaaa…anak genk genk…) kami selalu bersama-sama. Sampai sekarang, saya masih berkomunikasi dengan dia. Tapi hanya saling menertawai kalau ada yang memulai mengingatkan jaman SMP, jadi malu sendiri, hehehe.
5.       Nah yang paling seru, Star Five ini pernah menjadi mata-mata seuruhan guru-guru cewek untuk menguntit salah satu guru cowok kami yang sudah punya anak dan diduga menjalin hubungan dengan salah seorang teman kelasku. Jadilah kami detetktif cilik, hahaha….
Terakhir, saya menemukan jalanku untuk fokus di dunia bahasa dan sastra itu gara-gara keseringan ikut lomba baca puisi waktu SMP ini.

Ah, kenapa cuma 5 sih? Padahal saya mau menulis lebih banyak, hohoho…
Thanks PR nya Hima Rain, dan selanjutnya saya meneruskan PR ini kepada Rhul dan Hitam Pekat 

Saya di sisi lapangan basket dari dulu hingga kini!

Dear Nakki*

Jangan menanyakan perihal aturan dalam pertandingan bola basket pada saya. Meski kita selalu bertemu di pinggir lapangan, menyaksikan permainan para pemain basket. Usah heran, saya memang menggemari permainan basket, tapi saya sekedar menonton. Itu saja.
Sebagian masa remajaku terisi dengan cerita-cerita tentang bola basket. Kau pasti tahu tentang ini.
Saya bersekolah di SMP Negeri 1 Makassar, saat pemilihan kegiatan extrakurikuler, pilihanku bola basket.  Belum sempat latihan, saya terpaksa pindah sekolah karena ikut orang tua, pulang kampung.  Ini hal pertama yang menghalangi keinginan saya bermain basket. Bersekolah di desa, akibat pembangunan tak merata, di sana tak ada lapangan basket. Bola basket ada, tapi pun jika saya jago seperti kau, tak akan bisa menikmati permainan jika di permukaan tanah yang tak rata. Bukan begitu?
Maka niat menjadi pemain basket pun hilang. Saya memilih volley. Cukup menyenangkan, dan saya sangat menikmatinya, meski beberapa kali tanganku memar oleh bolanya. Latihan keras justru membuatku malas, saya tak berniat menjadi atlit. Terdengar membosankan sepertinya.
Tiba di Sengkang, menghabiskan masa SMA sendiri, tentu saja jadi kesempatan baik untuk menghidupkan mimpi bermain basket. Saya bisa pulang hingga larut sekedar bermain di sekolah tanpa khawatir dimarahi, tak ada yang menungguku di kamar kost.
Namun lagi-lagi batal. Saya lebih dulu tenggelam di kegiatan organisasi. Lagipula, kecil kemungkinan saya bisa diterima oleh para penguasa lapangan basket sekolah jika saya tak ada modal sedikit pun. Mereka sudah terbiasa memantulkan bola, melemparkannya ke dalam keranjang. Sedangkan saya?
Tiba-tiba dia mengajakku pacaran. Seorang senior dengan tubuh  paling tinggi di sekolah. Berpacaran dengan senior keren, jago main basket tentu saja membuatku cukup dikenal oleh anak kelas dua dan kelas tiga. Sahabatku memprediksikan sebentar lagi keinginanku terwujud. Sayangnya bahkan hingga putus, dua bulan waktu kami tak pernah berada di lapangan basket. Saya berpacaran kali pertama waktu itu. 
Beberapa bulan kemudian, saya banyak dekat dengan senior-senior yang sungguh saya tidak pernah mengaturnya, semuanya pemain basket.  Membuatku malas menginjak lapangan. Mereka memintaku untuk tetap di sisi lapangan selamanya. Tentu saja membuat saya semakin jauh dengan bola basket, kecuali saat pelajaran olahraga.
Lalu kita bertemu tanpa sengaja di toko buku bekas di pasar Tempe. Kau banyak membagi kisah persahabatanmu juga tentang pertandingan basketmu. Kau membuatku iri. Tapi kita tetap bersahabat, hingga akhir, begitu katamu. Kuakui saya memang tak bisa lama-lama untuk tidak bertemu kau. Kau selalu menginspirasi tiap langkah yang kuambil. Sungguh saya banyak belajar dari kau yang kemudian memilih menjadi seorang guru.
Tapi basket selalu keren di mataku. Juga di matamu tentunya. Maaf, kalau hingga hari ini kau masih membenciku setelah insiden lemparan bolamu yang tak kutangkap lantaran saya memilih tetap menjadi penonton saja. Bukan pemain!
Penghujung SMA saya berkenalan dengan kawanan yang menyebut tim mereka 3 POINT. Saya mengagumi mereka. Tentu saja lagi-lagi mengingatmu. Mereka lincah dan sangat bersahabat. Sama seperti kau dengan kawan ‘badung’ mu. Sama seperti saya dengan kawan ‘narsis’ ku.
Begitu juga pada masa peralihanku dari SMA ke Universitas, saya berkenalan dengan tim yang salah satu diantaranya menamai dirinya ‘Akatsuki Leader’. Ia baik dan jago bermain basket, sama seperti kekasihmu Iwasaki alias Chibi. Hingga kini, teman-temannya pun masih menjalin pertemanan yang baik denganku, bahkan seorang dari mereka menekuni Sastra Jepang, sastra negaramu. Beberapa hari yang lalu kami bersama di pinggir lapangan menyaksikan pertandingan.
Saya akan selalu menggemari pinggir lapangan daripada tengah lapangan. Toh itu akan membuat posisiku selalu nyaman. Tanpa beban. Tanpa rasa was-was karena takut tak terpilih tahap seleksi yang tak pernah seksi di mataku. Tanpa rasa benci setelah kekalahan atau kemenangan.
Pertandingan lebih banyak menghadirkan permusuhan. Dan saya lebih senang menertawai mereka yang larut dalam permusuhan itu. Tak sulit menemukan mereka. Biasanya mereka selalu buru-buru, mimik wajahnya penuh murka dan dengki. Mereka sombong. Belum lagi sang pelatih yang, ah saya tidak suka cara mereka meneriaki para pemain dengan penuh emosi.
Serta tetap mengagumi mereka-mereka yang selalu bermain santai, ramah, bersahabat, tanpa gegabah dan kecurangan tentunya. Sebab hidup hanya permainan, bukan pertandingan. Kemenangan dan kekalahan hanya bagi mereka yang gila urusan dan sok pintar. Saya tetap mengagumi caramu bermain basket, selamanya! Terima kasih telah mengajariku banyak hal memandang kehidupan.
*Nama aslinya Kitashiro Naoko, sahabatku yang juga kebetulan jadi tokoh komik Popcorn karangan Yoko Shoji.

Senin, 21 November 2011

I love My Jeans


Ini adalah satu-satunya celana jeans yang kupunya. Tahun 2008, pas terima gaji setelah menemani 30 mahasiswa dari Jepang ke Toraja dan pulau Barrang Lompo dalam rangka field trip, saya membelinya dengan diskon besar. Saat itu menjelang lebaran, di toko tempat tanteku bekerja memang sering ada diskon. Jadilah saya membelinya dengan harga Rp.70.000. Termasuk mahal menuruku, tapi kata sebagian orang justru sangat murah. Entahlah! 
Waktu itu saya ingin memakai celana, karena kupikir dengan gaji itu cukup juga untuk membeli sebuah sepeda. Saat itu saya ingin sekali naik sepeda ke kampus. Sebagai persiapan, saya membeli celana 2 buah, satu berjenis jeans, yang satunya jenis celana cargo. Tapi setelah membeli celana, saya malah mengurungkan niat membeli sepeda, dengan banyak pertimbangan. Uangnya beralih rencana ke Bali untuk ikutan  Ubud Writers Festival bersama kak Ochank rekan pustakawan di Biblioholic, untuk melihat kak Aan.M yang kebetulan jadi salah satu penulis undangan. Tapi lagi-lagi gagal! Saya juga lupa gara-gara apa, mungkin karena uangku habis buat bayar SPP. Hahhay...
Nah, kalau dihitung, sudah hampir 3 tahun saya memakai celana ini. Pekan lalu, saya menemukan lubang kecil di bagian lutut celana jeansku. Karena kuanggap cukup kecil, tidak begitu kupedulikan. Sampai dua hari lalu, lubangnya bertambah lebar. Tentu saja selain usianya yang tua, robeknya bertambah luas karena pergesekan tiap kali saya beraktufitas. Bahkan sudah kujahit, tapi terlepas dengan sendirinya. Satu-satunya ide yang muncul saat saya buru-buru ingin memakainya, adalah memasanginya emblem. Saya senang mengoleksi emblem tapi tak sembarang emblem. Yang menjadi incaranku adalah emblem yang memuat nilai kampanye positif menurutku. Saya pun memilih emblem bertuliskan 'pakai lagi jangan buang' yang pas menutupi lubang celanaku. Saya juga suka tulisannya.Emblem itu saya dapat dari Needle and Biotch, saya suka sekali sama buatan teman-teman di sana. Keren menurutku!
Tapi setelah kupakai, beberapa orang bilang 'sok preman', beberapa lagi bilang 'ikut-ikutan sama pacar saya'. Padahal saya memasang emblem ini karena memang celanaku robek, tanpa niat ingin terlihat nakal sama sekali. Sumpah! Oya, sebagian lagi bilang saya tak pantas, soalnya pakai jilbab tapi celana pakai emblem segala (loh? daripada pakai celana robek-robek?). Tapi saya cuek saja :p

Dan saya pun memutar lagu Camera Obscura

Of a‚ the airts the wind can blaw
I dearly like the west
For there the bonnie Lassie lives
The Lassie I love best
There’s wild-woods grow, and rivers row
And mony a hill between
But day and night my fancy’s flight
Is ever wi‚ my Jean...

(Jean di sini bukan celana Jeans ku yah? hahaha...)

Selasa, 15 November 2011

Vincent Moon si movie maker, datang ke Makassar


Saya sih tidak begitu banyak tau tentang dia. Sebab pada saat pemutaran video-video klip yang pernah ia kerjakan, saya terlambat datang. Saat itu malam sabtu, kalau tak salah ingat tanggal 4 November 2011. Dua hari lagi lebaran, sebelum masing-masing pulkam, saya bersama Kurns menghabiskan sore sambil main game. Keenakan main, sampai lupa kalau sore itu saya punya janji bertemu Piyo untuk mengantarkan benang rajutan pesanannya. Jadilah saya meninggalkan pondokan setelah magrib.
Sampai di Kampung Buku, kosong!  Piyo sedang keluar berbelanja, itu kabar yang kudapat melalui telepon. Setelah memastikan bahwa saya menitip benang tersebut di lemari buku, dengan tergesa-gesa saya mencari pete-pete kemudian meluncur ke Gedung Kesenian De Societiet Harmonie, sudah pukul 7, pemutaran video-video Vincent pasti sudah dimulai. Setelah turun dari pete-pete, saya harus menghabiskan waktu 10 menit kurang lebih untuk berjalan kaki dari depan karebosi menuju gedung kesenian. Sampai di sana, tak ada tanda-tanda bahwa ada acara di sana. Buru-buru kutelepon Aan, ternyata acaranya di dalam, di arena terbuka.
                Dengan nafas masih ngos-ngosan, saya mencari posisi duduk yang sedikit luas, agar bisa meluruskan kaki, sambil menikmati video entah yang ke berapa. Saya betul-betul telat! Video yang diputar saat saya baru-baru duduk, adalah video klip Phoenix. Keren menurutku, karena videonya di luar ruangan, malah sambil mengikuti perjalanan dalam sebuah bus, dan suaranya bagus, live! Latarnya Paris.
                Saya tak banyak mencatat video-video apa saja yang kutonton, yang kuingat hanya White Shoes and The Couples Company dari Indonesia, Malaikat dan Singa, dan Sigur Ros dan Islandia. Nah, band terakhir yang kusebutkan tadi adalah band yang paling tidak asing bagiku, karena Kurns sangat menyukainya, saya sering sekali mendengar lagu-lagunya melalui Kurns.
                Di sela pemutaran videonya, Vincent Moon mempersilahkan penonton untuk mengajukan pertanyaan. Dijawabnya dengan bahasa Inggris, dan diterjemahkan oleh Luna Vidya bergantian dengan Armin Hari. Tanya jawab pun berlangsung beberapa kali.
                Vincent ternyata senang berkeliling banyak negara. Jika ia punya waktu panjang di suatu negara, maka ia akan mencari pemusik yang dikenal bagus musiknya namun tidak bergabung dalam label record. Terkadang ia membuat video klip tanpa meminta bayaran sama sekali. Saat ditanya, mengapa dia mau melakukannya? Vincent bilang, cita-cita dia adalah membangun masyarakat yang hidup bukan berlandaskan UANG. Dia lahir dan besar di Paris, yang menurut dia adalah negara yang memiliki isme-isme terutama KAPITALISME. Makanya, ia muak dan bercita-cita seperti itu.
Dia juga mengatakan, kalau dulu ia pernah bergabung dengan beberapa perusahaan musik, itu adalah kesalahan yang pernah ia lakukan. Makanya ia saat ini ingin mencoba hal-hal baru yang ia senangi seperti traveling dan semacamnya. Ada banyak hal yang menurutnya bisa dilakukan untuk bisa berinteraksi dengan banyak orang, dan dia memilih musik sebagai caranya. Karena itu tidak mustahil untuk dilakukan oleh semua orang, menurutnya.
Oya, dia juga menambahkan, bahwa dia selama ini lebih banyak menggunakan internet daripada menonton tivi. Karena menurutnya tivi adalah media diktatoris, kita hanya menerima tanpa bisa semua yang ditayangkan memberikan umpan balik. Sedangkan internet kerjanya berkebalikan.
Hampir semua video klip yang ia buat, diambil di luar ruangan alias outdoor. Tapi suaranya tetap bagus terdengar.
Satu hal yang juga menarik menurutku, saat ia ditanya, apakah ia mengerti lagu-lagu yang dinyanyikan oleh band/artis yang ia buatkan video klip? Jawaban Vincent “Hal yang paling menarik adalah membiarkan sesuatu tetap jadi misteri bagi kita”. J
Satu lagi, si Vincent Moon ini tidak tahu bermain musik apa pun loh! Tapi senang membuat video klip musik.
Saya jadi ingat lagunya Jessie J ‘…it’s not about the money money money, we don’t need your money money money, just wanna make the world dance, forget about the price tag…

Selasa, 01 November 2011

Pragmatik Diam


Masih ingat tentang pelajaran pragmatik yang kuceritakan 
sebelum kita menonton film Eks?
Kukatakan diam adalah posisi tertinggi untuk menjaga dirimu di titik aman
Kukira kau tak menghiraukannya, kenapa kini kau yang melaksanakannya, berdiam diri
Padahal kau pernah berharap setelah tidur saya terbangun dengan melupakan semua teori bahasa dalam kepalaku
Saya bukan pelupa! Hanya sedikit penyakitan...