Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.
Tampilkan postingan dengan label Asal Ada Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Ada Tulisan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 April 2013

Rutinitas yang cukup menyenangkan atau apalah...


Besok, tepat 2 bulan saya bekerja sebagai pustakawan di salah satu perpustakaan yang lumayan nyaman, Perpustakaan Yayasan Bakti. Sebenarnya saya sempat rutin mencatatat kegiatan harian saya di sini. Tapi tidak kulanjut saat saya merasa bosan menuliskannya lagi. Hehehe... saya tipe orang yang akan pergi jika bosan. Kurang lebih seperti itu.

Oya kalau melihat judul postingan ini, pasti kalian bisa menebak saya sedang dipengaruhi sindrom Holden dalam buku The Catcher in the Rye yang senang mengatakan "atau apalah...". Hehehe...
Ya, saya memang baru tertarik membaca buku yang lumayan banyak diperbincangkan itu. Saya membacanya sudah lebih dari 2 minggu dan belum selesai juga. Tentu saja, karena saya hanya menyentuhnya saat berada dalam angkot menuju dan kembali dari perpustakaan ini. Itupun tidak lama. Saat saya mulai merasa pusing, saya menutupnya lalu menyimpan buku itu dalam tas. Kemudian lanjut mendengarkan musik melalui headset dari handphone ku. Sambil melihat kanan kiri, siapa tahu ada pemandangan yang berubah, meski itu nihil kadang-kadang. Kota ini, semakin membosankan, sepertinya saya harus menyusun rencana untuk pergi.

Dua bulan ini, menjalani rutinitas tentu saja membosankan. Tapi ada beberapa rutinitas yang menurut saya cukup menyenangkan.

1. Merajut di atas angkot atau menuntaskan buku bacaan.
2. Memilih berhenti di depan Taman Makam Pahlawan untuk melanjutkan angkot dengan rute tempat kerja. Saya punya kenangan kecil di sana.
3. Berjalan kaki menuju perpustakaan yang berada di jalan Mappanyukki dan tidak dilalui angkot. Saya selalu bertemu seorang pekerja bangunan yang cantik sekali. Tiap kali bertemu, kami bertukar senyum, dia tulus sekali. Serta seorang temannya, laki-laki yang tiap kali melihat saya, dia akan memberi salam dan hanya kubalas senyum. Ini menyenangkan, karena tak lama lagi, kita akan kehilangan ramah tamah seperti itu saat kota ini berubah semakin "moderen". Saya hanya ingin menikmati momen berbalas senyum dengan orang yang bahkan tidak dikenal sekalipun.
4. Ada 4 pengunjung perpustakaan yang hampir tiap hari datang. Semuanya laki-laki. Dan mereka memilih menggunakan internet daripada membaca buku, juga menggunakan fasilitas print atau scan dari perpustakaan ini. Yang menyenangkan adalah, saat saya mengecek data dalam fd mereka dan menemukan film. Tanpa sepengetahuan mereka, saya tentu saja meng-copy nya. Hehehehe... Sebenarnya bisa saja saya mencaritahu siapa nama mereka, dari buku tamu, tak sulit mencarinya. Tapi terlalu banyak hal yang menyenangkan daripada sekedar melakukan itu. :p
5. Berinternet sepanjang hari jika tak ada tugas. Saya bebas berkeliling dunia maya dan tentu saja menemukan musik dub dan chiptune baru ;)

Sabtu, 28 April 2012

Perasaan dulu Dos, terus apa lagi itu Windows?




Kira-kira seperti itu pertanyaan yang muncul di kepalaku saat belajar menggunakan komputer di ruangan Osis SMA. Seingatku, saat SMP, pertama kali menyentuh barang yang bernama komputer itu sistem yang diperkenalkan bernama Sistem DOS. Atau saya yang salah ingat?
Seperti itulah hubungan saya dengan mesin canggih satu itu. Saat saya kelas satu SMP pada tahun 2001, masih sebagai siswa baru di SMP Negeri 1 Makassar ada pelajaran Keterampilan Komputer, kami wajib membeli sebuah buku bersampul biru dengan gambar perangkat komputer, ada tulisan Pengantar DOS di sana. Yang membuat saya takjub saat itu, kami bisa menyimpan beberapa data mengenai sahabat kami. Pekan depan saat pelajaran Keterampilan Komputer itu tiba lagi, data itu masih tersimpan, “Huaaaaaaaa hebat sekali benda ini,” pikirku saat itu.
Sayangnya saya harus pindah sekolah ke kampung mamaku pada caturwulan ke-2, padahal saya belum juga mengerti kenapa data saya masih tersimpan dalam sebuah kotak bernama komputer itu selama berhari-hari? Apa penyebabnya?
Bersekolah di kampung, tentu saja tak bisa menemukan laboratorium komputer seperti yang ada di Makassar. Saya pindah ke sekolah SMP Negeri 2 Pitumpanua, sebuah sekolah yang cukup jauh dari ibukota kecamatan. Maka saya pun mengubur rasa penasaran terhadap benda satu itu.
Beruntung saat SMA di tahun 2005, saya bisa bersekolah di sebuah SMA yang fasilitasnya cukup lengkap. Lokasinya berada dalam ibukota kabupaten, tepatnya di SMA Negeri 3 Sengkang, Wajo.
Saya menjadi pengurus Osis yang ruangannya dilengkapi fasilitas komputer. Jadilah tiap hari saya pulang sampai sore dari sekolah hanya karena harus menunggu giliran menggunakan komputer, sekedar belajar. Beberapa temanku yang bersekolah di SMP kota Sengkang, sudah lancar menggunakannya. Di SMP mereka disediakan laboratorium komputer. Tertolonglah saya dengan bantuan mereka.
Saya heran sekaligus senang karena sistem operasinya sudah menggunakan Windows, itupun baru kutahu beberapa tahun setelahnya. Kita tidak perlu meng-input kode-kode sebagai perintah atau semacamnya ala DOS untuk menyimpan data. Berkat komputer itu, saya bisa mengetik cerpen-cerpen yang selama ini kutulis tangan. Dan bisa mengirimnya ke Makassar untuk dimuat koran-koran, sebab syaratnya cerpen yang dikirim harus dalam bentuk print out bukan tulisan tangan. Walau akhirnya lebih banyak ditolak daripada dimuat juga, hehehe.
Saat kelas tiga SMA, saya sudah lancar mengetik ini itu. Maka, saat mahasiswa baru di tahun 2007, dengan mantap orang tuaku merespon baik saat saya bilang ingin membeli laptop, karena saya sudah bisa menggunakannya. Setelah menjual rumah yang di Makassar dan mereka memilih menetap di Toraja, saya kebagian jatah untuk membeli laptop di awal ramadhan tahun 2007 dari hasil jual rumah kami.
Saya membeli Acer Aspire 4315 atas saran teman kost yang berkuliah di STIMIK Dipanegara. Hal yang utama bagi saya dalam memilih laptop saat itu adalah webcam. Hahaha… dengan begitu saya bisa memotret diriku sendiri, lantaran handphone ku saat itu tidak memiliki kamera. Saya tidak tahu sama sekali perihal spesifikasi dan semacamnya. Yang kutahu saat itu, saya butuh laptop untuk mengetik tugas, bermain game, berfoto, mendengarkan musik, memutar CD atau DVD, dan terjun di dunia maya, itu saja.
Hingga kini laptop itu masih kugunakan, bahkan dalam mengetik tulisan ini. Meski sudah banyak bagiannya yang tidak berfungsi. Bagiku, laptop ini adalah pengganti rumahku. Saya menyimpan banyak kenangan di sini.
Laptopku sering bermasalah, kena virus lah, tidak bisa connect dengan internet lah. Dan satu-satunya tempat yang kutuju jika ada masalah dengan laptop ku adalah tempatku membeli laptop tersebut di MTC. Saya harus mengeluarkan uang minimal Rp 50.000 tiap kali memperbaikinya. Padahal bisa saja kerusakannya tidak begitu parah.
Nah, beruntung sekali lagi saya dapat pacar yang senang mengutak atik komputer. Jadi tiap kali ada masalah pada laptopku, dia yang mengatasinya. Hehehe…
Kembali persoalan DOS dan Windows, sampai saat tulisan ini kubuat, saya tidak begitu paham tentang keduanya. Sungguh! Mungkin setelah mem-posting cerita ini, saya akan mencari tahunya. ;)



*tulisan ini untuk dimuat di kolom PENYIGIAN komunitas Tanah Indie. Silahkan cek di sini.

Rabu, 29 Februari 2012

Dari peluncuran buku 9 PENGAKUAN




Ini peluncuran buku yang kutunggu dan mengensankan karena bisa bertemu penyair favorit yang juga temanku, jadi serasa kumpul kangen begitu...hehhehe...

Minggu, 18 Desember 2011

Mari Baca Fabulinus Zine #2

Hey...Hey...Fabulinus Zine #2 telah muncul ke permukaan. 
Kami menulis dan berbagi banyak hal tentang proyek D.I.Y
Saya menulis tentang cara membuat sabun sendiri, berbekal pengalaman satu kali membuat sabun mandi. Dicoba yah. Oya, saya punya beberapa alatnya, kalau mau dipinjam juga boleh, call me saja ;)

Sabtu, 26 November 2011

5 hal penting saat SMP


Kemarin saya kaget pas cek blog, kenapa tiba-tiba si HimaRain menuliskan pesan dalam chat box ku tentang PR?
Setelah cek ke blognya, ternyata PR yang dimaksud adalah ‘menuliskan 5 pengalaman pas SMP’.
Tentu saja saya tak butuh waktu lama mengingat semuanya, karena bahkan lebih dari 5 pengalaman ter-seru ku selama SMP. Dan pastinya sangat susah dilupakan (hihihi…lebay)
Langsung langsing mi nah…
1.       Poin 1 dan 2 ini adalah pengalaman waktu saya masih SMP di Makassar, tepatnya di Spensa Makassar jalan Baji Areng. Pertama kalinya saya bolos sekolah waktu SMP ini, kelas satu, masih status siswa baru (masih hangat malah…pisang goreng kapang?). Tapi bukan bolos belajar melainkan bolos Pesantren Kilat yang diadakan OSIS saat bulan puasa. Hari itu adalah hari pertama puasa dan bertepatan dengan ulang tahunku yang ke-12 kalau tak salah. Si Masdar sang ketua kelas yang menginisiasi bolos barengnya, kita ramai-ramai ke Mall Ratu Indah sekedar cuci mata dan pulang. 
2.       Saya membawa buku Biografi Nike Ardilla yang baru dibeli oleh tanteku ke sekolah, untuk kuperlihatkan ke temanku Siti Ainal (kalau tak salah, dia salah satu pengagumnya). Tapi saya lupa mengambilnya di laci meja. Besoknya, buku itu sudah hilang. Sampai sekarang orang di rumah tidak tahu kalau saya yang menghilangkannya, hihihi…mudah-mudahan tak ada keluargaku yang membaca postingan ini (licik :p).
3.       Poin ke-3 sampai 5, tentang keberadaanku di SMP Negeri 2 Pitumpanua, saya pindah ikut mamaku pulang kampung. Awalnya, saya mengira akan jadi anak pindahan yang tak punya teman. Ternyata, hari pertama saya disambut baik sama teman-teman yang hingga saat ini kami masih menjalin persahabatan erat. Kami menamakan kelompok kami ‘Star Five’ hahhay. Mereka adalah Wulan, Cemma, Wana, Tuti. Belakangan bertambah satu yaitu Cimma.
4.       Seperti si Hima Rain, saya pertama kali suka sama seseorang pada saat SMP kelas 2, sebut saja dia Edeb. Hihihi…tapi kami tak sempat pacaran meski sebenarnya saling tahu. Dia juga punya genk (Yosep, Hamzah, Bahtiar, Aswar) dan kedua genk (ciaaa…anak genk genk…) kami selalu bersama-sama. Sampai sekarang, saya masih berkomunikasi dengan dia. Tapi hanya saling menertawai kalau ada yang memulai mengingatkan jaman SMP, jadi malu sendiri, hehehe.
5.       Nah yang paling seru, Star Five ini pernah menjadi mata-mata seuruhan guru-guru cewek untuk menguntit salah satu guru cowok kami yang sudah punya anak dan diduga menjalin hubungan dengan salah seorang teman kelasku. Jadilah kami detetktif cilik, hahaha….
Terakhir, saya menemukan jalanku untuk fokus di dunia bahasa dan sastra itu gara-gara keseringan ikut lomba baca puisi waktu SMP ini.

Ah, kenapa cuma 5 sih? Padahal saya mau menulis lebih banyak, hohoho…
Thanks PR nya Hima Rain, dan selanjutnya saya meneruskan PR ini kepada Rhul dan Hitam Pekat 

Sabtu, 26 Maret 2011

Bertemu Andreas Harsono lagi!

(fotonya kuambil dari sini)
-->
Kemarin sore, saya ikut diskusi Identitas yang menghadirkan Mas Andreas Harsono sebagai pembicara. Sebenarnya itu bukan diskusi terbuka, hanya untuk kalangan anggota identitas. Tapi beruntung ada kak Nilam. Makanya saya bisa gabung. ^_^
Sebenarnya ada rencana ketemu-ketemu sama para peserta menulis adalah laku kebajikan, tapi tak kunjung ketemu waktunya. Jadi saya memilih ikut diskusi ini. Daripada tidak ketemu sama Mas Andreas? hehehe...
Pembicaraan dibuka dengan suatu hal yang menurut Mas Andreas sendiri bisa mengejutkan, tapi menurutku tidak. Yakni, dia mengusulkan bagaimana kalau Identitas memikirkan untuk STOP CETAK dan mulai merancang untuk koran online. Tentu saja dengan alasan, mengikuti perkembangan jurnalisme internasional. Walaupun akan ada hal-hal yang kurang menguntungkan akan timbul. Seperti yang terjadi di Amerika, sepertiga wartawannya kehilangan pekerjaan akibat banyak media yang beralih dari offline jadi online.
Saya sendiri sah-sah saja dengan usul itu (toh saya bukan anak Identitas ji, hehehe). Toh, memang baik buruknya tergantung kita yang mengarahkan. Sejauh ini saya menganggap internet bagus dan banyak membantu. Ya, selama saya masih bisa mengendalikan diri untuk tidak kecanduan bermain-main di dunia maya. Sehingga saya masih bisa hidup tanpa internet. Sebab di mana-mana hal yang berlebihan itu buruk bukan?
Pembicaraan dilanjutkan dengan paparan Mas Andreas tentang perkembangan teknologi komputer awal hingga kini. Juga diberikan perbandingan pedapatan Google yang tahun lalu mendapat laba bersih 6.500 triliun, dengan perusahaan Indosat di Indonesia yang hanya 2 triliun dua tahun lalu. Sangat berbeda bukan?
Ada satu peranan wartawan yang akan lenyap beriring maraknya koran online, yakni ‘Gate Keeper’. Jika di koran-koran cetak, tugas wartawan adalah penjaga pagar agar berita yang dimuat bisa berimbang bahkan lebih banyak berpihak pada masyarakat yang ditindas, maka dengan munculnya media online, akan susah membedakan mana informasi yang benar-benar sudah disaring oleh para wartawan. Tentu saja tak ada yang bisa melawan ini jika sudah berhadapan dengan internet. Satu-satunya cara ialah pandai-pandainya kita (masing-masing personal) menyaring informasi yang beredar. Tantangannya lebih besar bukan?
Sehingga, dengan begitu, wartawan dihadapkan dengan peranan yang lebih besar. Yakni:
1. Autenticator;
2. Sense maker;
3. Investigator;
4. Event witness;
5. Empower;
6. Rule model;
7. Smart aggregator;
8. Forum organizer.
Perbincangan selanjutnya sampai pada teknik-teknik penulisan berita. Model straight news, feature, essai, dan narasi. Juga Bagaimana pengambilan berita itu diutamakan untuk veirifikasi dulu. Tidak sering-sering menggunakan teknik investigasi. Juga teknik memilih narasumber yang baik. Yakni orang pertama, bukan pada narasumber kesekian. Tentu saja tidak berpegang pada orang-orang yang menyebut dirinya pakar, pengamat, atau pemerhati.
Tidak lupa untuk selalu menyebutkan nama narasumber. Sebab narasumber yang tidak mau disebutkan namanya adalah orang-orang yang mau lempar batu sembunyi tangan. Kecuali untuk alasan:
1. Dia sumber lingkaran pertama
2. Jumlahnya lebih dari satu orang
3. Bisa membahayakan dirinya (dibunuh atau dianiaya) jika namanya disebut.
4. Integritasnya baik
5. Motivasinya menyampaikan fakta untuk kepentingan public
6. Seijin redaktur (melalu editing berkali-kali)
7. Ada perjanjian batal pemuatan berita.
Saya teringat lagi sama materi-meteri kelas menulis yang diadakan panyingkul dua tahun lalu dalam rangkaian ulang tahun Panyingkul yang ke-2. Juga kembali ingat sama tugas yang hingga kini belum saya rampungkan. Menulis 5000 kata. Bahannya sudah kukumpulkan sejak tahun lalu. Tapi saya terlalu sibuk dengan hal-hal baru, teman, aktivitas, jurusan kuliah, tempat nongkrong, dan kekasih. Makanya sampai sekarang saya belum merampungkannya. Dan ini yang membuat saya agak malu ketemu sama Mas Andreas. Hehehe…
(foto ini kuambil dari album Anies di FB)
Seperti biasa, diskusi ditutup dengan makan-makan. Pertama kue-kue buatan kak Nilam yang betul-betul enak. Kemudian dilanjutkan dengan makan malam. Kami makan di Rumah Makan Seafood Lae-Lae. (Awalnya yang mau mentraktir Mas Andreas, tapi Anies dari Identitas yang lebih dulu membayar, ^_^) Hal yang tak kalah menarik dari pertemuan ini adalah, saya bisa berkenalan dengan beberapa wajah baru, yang tak lain anggota Identitas. Seperti Fadli, Icha, dan Anies.
Mas Andreas bilang, kenapa saya berubah jadi pendiam dan feminim yah? (kebetulan saja Mas, saya akhir-akhir ini lebih memilih banyak diam saja, hehehe)
Saya kagum dengan kehidupan Mas Andreas. Walaupun tidak begitu kenal, sebab kami hanya bertemu empat hari dalam kelas menulis dua tahun lalu. Selebihnya saya mengenalnya melalu tulisan-tulisannya. Juga setelah pertemuan beberapa jam kemarin dalam acara diskusinya di Identitas. Saya senang dengan orang-orang yang mengerti bagaimana menyikapi perbedaan dengan cara yang menyenangkan. Bukan dengan peperangan. Terlebih saya bisa belajar dari pengalaman-pengalamannya membantu mengadvokasi kelompok-kelompok minoritas yang kebanyakan ditindas.
Saya sepakat dengan pemikirannya tentang ‘agama semestinya tidak diurus oleh negara’ (silahkan baca tulisannya di sini) sebab terbukti itu akan mengacaukan negara sendiri. Akan selalu ada agama yang dinomor satukan, dan ada yang dinomor duakan. Lantas, jika begitu dimana letak kebebasan memeluk agama?
Andreas Harsono, menurutku sangat berani. Kalau tidak percaya, baca saja tulisan-tulisannya mengenai Orang Madura di Kalimantan, orang Aceh, orang Papua, Ahmadiyah, dan lain-lain di Blognya.
(foto oleh Kak Iwan, waktu pelatihan Menulis Panyingkul!)
Oya, satu lagi, Mas Andreas tambah tua kok tambah kelihatan cakep dih? ^_~

Senin, 13 Desember 2010

Tips beli oleh-oleh di Kuta, Bali

Hay, saya punya beberapa tips berbelanja oleh-oleh di Bali, ini berdasarkan pengalaman pribadiku:
1. Sebelum berangkat catat nama-nama yang akan kalian bawakan oleh-oleh nantinya. Ini untuk menghindari ada yang terlupa, ini juga kadang masih ada yang terlupa, apalagi kalo ndak dicatat jauh-jauh hari.

2. Kalau kalian jago menawar, silahkan berbelanja di pasar tradisional. Tapi bukan sembarang pasar. Ada beberapa pasar di Bali yang terkenal dengan barang murahnya, Pasar Seni sama Sukawati. (Kalo kalian jago nawar ji nah)Pasar seni, Kuta
3. Untuk yang tidak tau menawar lantaran bingung kisaran harga barangnya berapa, mending ke toko-toko oleh-oleh yang grosiran plus lengkap. Saya sendiri memilih ini. Karena selain tidak jago menawar, waktu saya untuk berbelanja oleh-oleh juga sempit, jadi cari yang bisa hemat uang sekaligus waktu. Apalagi kalau di pasar, terkadang si penjual langsung kasih harga super tinggi. Jadi kita serasa tidak enak menawar super rendah, buntut-buntutnya menyesal. Di Bali ada beberapa toko souvenit grosiran nan lengkap, seperti Krisna dan Kumbawati. Tapi jangan tanya alamatnya ke saya, waktu itu nasib kami hanya bergantung pada supir taxi, yang jelas di Kuta. ^_^
Pokoknya satu kali jalan sudah bisa dapat berbagai macam oleh-oleh.Toko oleh-oleh Krisna
Toko oleh-oleh Kumbawati (my favorite)
4. Jangan belanja terlalu boros!!! Beli yang sesuai kebutuhan, ok!
Itu saja, saya tidak menyarankan kalian sering-sering belanja. Hanya saja, siapa tau ini bisa membantu untuk menghemat. Souvenir di Bali itu bikin ngiler...apalagi gelang-gelangnya...hehehehe...
Seandainya turuti kemauan memiliki yang tinggi, pasti saya sudah borong semua jenis barang-barang di sana. Untungnya, saat belanja saya selalu banyak pertimbangan, termasuk "ah, bisaja bikin yang beginian, jammi beli deh..." ^_~

Sabtu, 28 Februari 2009

Wahai penerbit buku, dengarlah!



Beberapa hari terakhir ini saya bertugas mendata buku. Buku baru yang akan menjadi koleksi cafe baca Biblioholic. Mendata, setelah itu memberi sampul plastik agar lebih awet, terakhir memberinya label. Banyak hal baru yang kutemukan dari kegiatan yang cukup melelahkan itu.
Salah satunya, saya sudah bisa membedakan mana penerbit buku yang memenuhi syarat penerbitan buku. Mungkin sebagian mengira ini tidak begitu penting. Tapi sebagai pustakawan, saya merasa terganggu. Saat menginput data.
Beberapa penerbit tidak mencantumkan jumlah halaman dan ukuran buku. Serta tak dicantumkan jenis buku yang diterbitkan. Sebagai pemula saya kadang sulit membedakan beberapa jenis buku. Seperti buku sosiologi dan budaya, dan lainnya.
Entah aturan tentang itu tidak diketahui pihak penerbit atau bagaimana. Padahal, beberapa diantaranya adalah penerbit yang ternama dan menerbitkan karya-karya ternama pula.

Senin, 09 Februari 2009

MEMBACA ITU SEXY


Setahun lalu…
SEMA mengadakan acara penyambutan MABA yang diberi nama “Kampung Sastra”.
Salah satu dari rangkaian acara Kampung Sastra adalah diskusi dengan tema “Membaca dan Menulis itu Sexy”.
Ketika peserta ditanya, “apa yang melintas di kepala anda ketika mendengar kata membaca?”


Sebagian besar peserta menyebutkan:
-Buku, Komik -Waktu
-Pengarang -Bosan
-Informasi -Hobby
-Perpustakaan, Kafe Baca -Suasana tenang
-Kuper -Kacamata
Selanjutnya, peserta ditanya lagi, “betulkah membaca itu membosankan?”
Ya dan tidak, alasannya:
-tebal -waktu kurang
-jenis bacaan -tidak banyak bergerak
-tidak menarik -Buku VS Televisi
-Bahasa tingkat tinggi
Pertanyaan terakhir, “pentingkah membaca?”
Banyak tanggapan, diantaranya:
-Cari pengetahuan -Dapat pemahaman
-Buku = Jendela dunia -Mengurangi kemiskinan
-Cari informasi -Menumbuhkan kesadaran diri
-Selangkah lebih maju -Dua langkah lebih maju
-tidak ketinggalan info -Membaca = Petualangan yang tak pernah selesai
Nah, jika dibandingkan, lebih banyak manfaatnya bukan?
Ayo, mulai dari sekarang membaca sesering mungkin!
Malu lah jadi mahasiswa yang jarang membaca.
Lantas apa hubungnnya dengan sexy? Makanya sering-seringlah membaca, anda akan temukan jawabannya.

Senin, 04 Agustus 2008

Dua Karya Dadakan


Tahu pernah ada pelatihan jurnalisme sastrawi di Makassar yang diadakan oleh Panyingkul bekerja sama dengan Pantau?
buka laporannya di http://www.panyingkul.com/view.php?id=920 dan http://andreasharsono.blogspot.com/2008/07/makassar-belajar-bersama.htmlBeruntungnya saya bisa ikut dalam kelas itu.
Dua kali kami diberi PR yang harus dikumpul esok harinya.
Berikut kedua PR yang kukumpul itu.
 

Pemulung dengan sapaan Mr.
Sore yang mulai melukis langit dengan crayon merah, adalah Sore selalu menarik bagi saya ketika masih bersekolah di Sengkang, Wajo. Hampir setiap sore, ketika semua rutinitas telah kurampungkan, saya akan duduk di pinggir jendela kamar yang berada di lantai dua lalu melihat-lihat ke bawah menanti seseorang. Seseorang yang tak pernah terpisah dengan karung bekas di punggungnya dan selalu ia carikan isi. Botol dan gelas minuman bekas. Sekedar tuk mengajaknya berbincang-bincang.
Pondokanku yang letaknya tak jauh dari pusat perbelanjaan kota sutera ini adalah lokasi yang selalu menjadi incaran lelaki berumur lebih dari setengah abad itu. Lengkap dengan kaca mata yang salah satu gagangnya tak lagi menggunakan plastik, melainkan karet gelang hitam. Serta topi kusam dengan sulaman di sisi kirinya bertuliskan PT. Inco.
“Saya pernah kerja di PT. Inco Nak!” katanya ketika saya menanyakan di mana ia menemukan topi itu.
Ia selalu meminta saya memanggilnya dengan nama Subair saja. Tidak menambahkan kata mister di depannya, seperti yang dilakukan orang-orang yang mengenalnya. Mungkin Subair ini adalah pemulung yang paling terkenal di kota Sengkang. Berbicara dengan para turis adalah hal yang sangat membuat kami-warga Sengkang iri. Setiap kali ada turis yang mengunjungi kota itu, dan tak sengaja bertemu dengannya, maka ia dengan percaya diri menyapa turis-turis tersebut. Tentu saja itu adalah pemandangan yang unik bagi kami. Sehingga kami pun menyapanya dengan nama Mister.
Enam bahasa asing yang ia bisa. Spanyol, Belanda, Jerman, Jepang, Perancis, dan tentunya bahasa Inggris. Maka kami merasa memang pantas ia dinamai Mister. Juga karena ia tidak banyak bicara dengan orang sekitar, kecuali ia tahu bahwa lawan bicaranya adalah peminat bahasa asing. Sehingga bahasa yang sering ia gunakan adalah bahasa asing.
“Waktu zaman Suharto nak, banyak turis yang datang di sini, jadi hampir setiap hari saya bisa dapat dua ratus ribu kalau jadi pemandunya. Tapi sekarang, tidak menarikmi ini Sengkang, kurang turis yang berkunjung. Makanya saya lebih pilih jadi pemulung saja. Tidak beda jauhji pendapatanku.” tuturnya menengenai pendapatannya.
Satu pertanyaan yang sering ia temui adalah mengapa ia harus menjadi pemulung, padahal ia punya kemampuan lebih yang bisa mengantarnya mendapatkan profesi lebih dari pemulung.
“Gaji guru tidak seberapa nak! And I dislike it” ungkapnya ketika say dan seorang teman mengajaknya menjadi guru bahasa asing di sekolahku.
Tak banyak informasi yang dapat kami temukan darinya langsung, sebab ia sangat tertutup. Bahkan ketika kami berniat mengunjungi rumahnya, ia dengan tegas melarang. Namun dari penuturan warga yanng lebih tua dan mengenalnya, banyak yang beranggapan bahwa Subair menderita penyakit kelainan jiwa akibat anaknya yang meninggal dan istrinya yang meninggalkannya.


Yang bergaris miring di atas adalah kalimat klise yang menjadi bahan ejekan membangun buatku. aku selalu tersenyum sendiri jika mengenangnya.

Tulisan kedua:
“Bisa- Bisa Saja”

Beberapa tahun lalu, pengemis hanya ada di perempatan lampu lalu lintas dan pusat perbelanjaan. Kini mereka hampir ada di seluruh pinggir jalan besar kota Makassar. Misalnya, Jalan Perintis Kemerdekaan. Antara pintu satu UNHAS sampai depan Makassar Town Square, ada seorang anak, yang menjadikan daerah itu sebagai wilayahnya mencari belas kasihan orang.
“Ina!” jawabnya ketika aku menanyakan namanya.
Sambil menggendong Mutia, adik bayinya yang baru berumur enam bulan, Ina mengajakku duduk di pinggir jalan.
“Di manaki tinggal?”
“Belakangnya Muhammadiyah, PK empa’ lorong enam.”
“Nda sekolahki?”
“Nda mi kak, tapi pernahja gang sekolah di kampung sampe kelas tiga.”
“O…jadi pintar jaki membaca itu.”
“Iye, na sekolahja juga di UNHAS?”
“Hah?”
Ia pun tertawa. “Di mesjid kak! Ada kakak-kakak di mesjid setiap hari minggu ajarka membaca, menulis sama mengaji.” Jelasnya.
“Oh itu yang program adik asuh di’.”
“Iye.”
“Apakah cita-citata?”
“Jadi pemain basket!”
“Kenapa bisa?”
“Bisa-bisa saja.”
“E…” untuk kedua kalinya aku kebingungan.
“Maksudku kenapa kita mau jadi pemain basket?”
“Tidak ji, karena biasaka main basket sama kak Aisyah di lapanganna UNHAS”
“Oh…”
“Sejak kapanki tinggal di sini?”
“Lamami kak, bertahun-tahunmi.”
“Tapi pernahki tinggal di kampung toh? Di mana kampungta?”
“Kajang kampungna mamakku, kalo bapakku Je’neponto. Tapi lama ya’ tinggal sama nenekku di Je’neponto.”
“Apa kita kerja di kampung selain sekolah?”
“Anu, gembala sapi dan menanam padi.”
“Terus kenapa pale pindahki ke sini?”
“Nenekku diusirki dari kampung yang di Jeneponto karena dituduh i lempar kambing”
Belum sempat saya bertanya, ia melanjutkan ceritanya.
“Itu kambinga masukki di kebunna nenekku, diusirki sama nenekku toh, baru itu pekkangi itu kambinga, nakirami punyana dilempar, padahal diusirji.”
“Gara-gara ituji?”
“Iye.”
Saya tertarik dengan Ina ini sejak dua hari yang lalu. Waktu itu saya dalam perjalanan pulang menuju pondokan. Saya melihatnya sedang mengulurkan gelas plastik putih bertelinga dengan ukuran besar. Orang bugis biasa menyebutnya canteng. Ina mengulurkan canteng itu pada seorang wanita berjilbab yang kelihatannya jijik pada Ina. Matanya sinis memandangi Ina. Setiap kali Ina maju, wanita itu mundur, Ina maju, Wanita itu mundur lagi. Sampai wanita itu pergi menjauhi Ina, lalu kulihat Ina tersenyum puas. Saya pun ikut tersenyum melihat keusilannya. Ya, itu perwakilan rasa kanak-kanaknya di mataku.
Dia anak ke empat dari sepuluh bersaudara. Ketiga kakaknya telah berkeluarga dan tinggal di kampung.
“Bapakta apa nakerja?”
“Payabo-yabo”
“Mama’ ta?
“Di rumahji naajarki adekku membaca baru na jagai juga adekku yang karena masih kecil semua.”
“Setiap hari apa-apami itu kita kerja?”
“Pagi setengah enam keluarma itu cari botol Aqua bekas, jang sepuluh pulang baru kubantu mamakku memasak sama menyimpang,baru sore-sore pigima minta-minta sama inie.” Matanya melirik Mutia.
“Hah? Apa itu menyimpang?”
“Orang di sini bilang membersihkan, kalau di kampung bilang menyimpang.”
“Oh…”
“Nda sakitji itu adekmu kodong?”
“Ih, nangiski iya kalo naliakka pergi na tidak kubawaki.”
Kisah yang dialami Ina dengan nama lengkap Herlina ini sudah banyak kutemui pada anak-anak serupa. Bukan hanya di kota besar seperti Makassar. Kini di ibukota kabupaten pun anak kecil tak bersekolah berprofesi sebagai peminta-minta ada.
“Siapa suruhki itu pigi begitu?”
“Nda adaji! Saya sendiri mau untuk membantu mama di rumah.”
“Kita sukaji begitu?”
“Iya, untuk mencukupi makanan sehari-hari.” Tiba-tiba cara bicaranya berubah menjadi kalimat baku, layaknya orang dewasa sambil mengannguk mantap.
Karena kulihat ia gelisah ingin segera berpetualang lagi, saya pamit dan mengucapkan terima kasih. Ia menyodorkan canteng kepadaku. Lembaran lima ribuan kumasukkan kedalamnya, ia pun pamit dengan ucapan terima kasih.


Walaupun tidak menarik, saya puas bisa mengerjakan PR itu dalam waktu beberapa jam saja. Yang terpenting kan bahwa saya sudah menulis sesuatu. Seperti yang dikatakan Kak Luna di atas kertas pesan dan kesannya padaku, TULISANNYA EKA ADALAH TULISANNYA SETELAH INI.

Jumat, 01 Februari 2008

Jurusan Terbaik Adalah...

Ukkhhhhh…..hari ini aku jengkel banget, kenapa seh semua orang sejak dulu selalu meremehkan pilihanku. Salah satu Paman yang sudah agak lama tidak bertemu denganku kembali membuatku down ketika mengetahui bahwa jurusan yang saya pilih adalah sastra Jepang, dia bilang ”Gimana ke depannya? Mau jadi apa?”
Huh…katanya orang berpendidikan, lantas kenapa ia seakan tidak tahu tentang hal seperti itu, bahwa tiap manusia terlahir di tiap bidang yang bebeda-beda, mana mungkin semua orang akan menjadi dokter (jurusan ideal di mata sebagian orang) di dunia ini. Arrrrrrrrrgggggghhhhhh…….
Tapi ada baiknya juga sih hal itu terjadi, semangat saya untuk bisa berhasil semakin menggebu-gebu. Saya akan buktikan bahwa memang yang menentukan seseorang berhasil adalah dirinya sendiri, dan saya akan berhasil. Insya Allah.
Please deh buat pembaca yang juga punya anggapan sama dengan Pamanku itu, mulai sekarang buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Semua pilihan itu tak ada yang buruk, kecuali salah pilih. Toh banyak orang yang berhasil bukan karena dia pintar ber-Matematika atau sejenisnya, melainkan karena ia bisa menguasai bidangnya.
Ingat satu hal, jangan melihat dari jurusan apa dia tetapi keahlian apa yang ia miliki.
Semua profesi di dunia ini kan saling berkaitan, jadi tak akan bisa berjalan jika salah satunya tak ada yang mengerjakan.
Ada anggapan bahwa jurusan Exact itu adalah yang terbaik.
Siapa bilang?
Dunia ini membutuhkan orang-orang sosial dan seni agar tampak indah.
Dunia ini mebutuhkan ahli hukum, politik, dan pemerintahan agar bisa mengatur berjalannya proses hidup kita di dunia. Akan kacau jika tak ada yang mengaturnya.
Dunia ini membutuhkan pakar-pakar bahasa agar bisa mempererat hubungan antara negara yang satu dan yang lainnya.
Pokoknya semua dibutuhkan deh, jadi tak ada yang lebih baik di banding yang lain.
Pecundang orang yang suka meremehkan orang lain, memangnya dia sudah sempurna apa?! Mending urus diri sendiri tuh...

Sabtu, 19 Januari 2008

Untung ada tikus

Sri Ramdayani Wardana, itulah nama lengkap gadis tembem ini. Akhir-akhir ini Sri selalu uring-uringan karena masalah di pikirannya semakin menumpuk, baik itu problem di rumah ataupun masalah di sekolahnya.
Di rumah, Sri selalu saja dapat marah oleh tantenya pemilik rumah yang ditinggali Sri. Kemarahan itu bersumber dari seekor ikusyang selalu berkeliaran dari kamar satu ke kamar lainnya di rumah itu. Sri selalu medapat jetah untuk menangkap dan menghabisi tikus itu namun tidak pernah berhasil ia tangkap. Lagipula Sri selalu merasa iba dengan tikus itu.
”Tikus itu tidak perlu dikasihani Sri! Pencuri kok dikasihan,” ketus tantenya sewaktu Sri merasa lelah mengejar-ngejar tikus itu dan meminta agar tantenya berhenti berceloteh tentang ulah tikus. Namun si empunya rumah ini seolah gak mau peduli dan tetap bersikeras untuk menangkap tikus.


Lain lagi di sekolahan. Akhir-akhir ini ada cowok yangg mengaku cinta mati sama Sri. Namanya Ikbal siswa kelas II IPA 1 yang letak kelasnya persis di samping kelas Sri, II BAHASA. Karena kedekatan itulah Ikbal selalu saja berusaha agar bisa membujuk Sri untuk menerima cintanya. Ulah Ikbal benar-benar bikin Sri merasa gak tentram dan nyaman.
”Ikbal plis deh aku gak mau diganggu,” Sri sengah jengkel.
”Sekali ini saja. Kamu harus dengar ungkapan peasaanku yang begi...tu suci,” Ikbal sok puitis di depan Sri sambil menggerak-gerakkan tangannya lagak penyair yang sedang mendeklamasikan puisi.
”Sori yah Ikbal manis, cakep...tuh Pak Guru udah datang,” Sri mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu dan dari jauh sudah tampak seoreng guru dengan membawa setumpuk buku pelajaran.
”Aduh senangnya, gadis pujaan hati memuji diri ini, dah manis,” Ikbal berlalu meninggalkan kelas itu sedangkan Sri manyun-manyun sambil menggerutu dalam hati.
Ih tidak semua yang kamu dengar itu benar, emangnya kamu cakep???
Pelajaran berakhir dan itu tandanya para siswa bebas pergi ke mana saja. Sri pun melangkah menemui sahabatnya Erfina yang kelasnya tak jauh dari kelas Sri.
”Fin tolong aku dong,”Sri memelas sambil menggandeng tangan Erfina keluar dari gerbang sekolah.
”Memangnya ada apa?,” ujar Erfina santai meskipun tangannya tangannya digenggam Sri dengan sangat erat.
”Kamu tahu Ikbal kan. Dia naksir aku dan akhir-akhir ini hampir tiap hari dia datang ke kelasku dan menyatakan cintanya. Kalau sopan sih gak masalah, tapi ini ih norak banget,” ujar Sri sambil melepaskan gandengan tangannya.
”Trus kamu suka dia?,” tanya Erfina cuek.
”Ah Fina kamu kayak tidak tahu aku saja, aku kan belum mau pacaran. Lagipula kalau aku mau pacaran mendingan saya milih Aji atau si Rico yang dulu nembak aku,” keluh Sri.
”Kamu bilang saja kalau kamu sudah punya pacar. Gampang kan!”
”Gimana kalau dia nanya siapa pacar aku,” Sri cemas.
”Bohong demi kebaikan kan gak dosa,” usul Fina sambil memasuki pekarangan rumahnya.
”Thanks ya,” seru Sri sambil melambaikan tangannya.
Hari ini Sri sudah mati-matian menjelaskan ke Ikbal kalau dia sudah punya pacar tetapi Ikbal tetap bertahan membujuk Sri. Malahan Ikbal bersedia dijadikan TTMnya sri. Bahkan lebih ekstrimnya lagi Ikbal rela jika Sri ingin menjadikannya sebagai kekasih gelpnya Sri.
Ih malam kali, gelap, pikir Sri.
Sri mengeluarkan sejuta alasan untuk menolak Ikbal. Mulai dilarang pacaran, ingin fokus belajar, trauma pacaran, sampai alasan kuno kalau dia sudah bertunangan. Namun dasar sudah dibutakan cinta, Ikbal seolah tidak mau tahu dengan semua alasan yang diberikan Sri.
”Walau darahku bercucuran, aku tetap akan berusaha mendapatkanmu Sri,” ujar Ikbal dengan semangat juang 45.
Akhirnya Sri capek juga melayani cowok di depannya ini. Dia lalu bangkit dari tempat duduknya dan bersiap meninggalkan Ikbal yang masih mengeluarkan kata-kata mutiara.
”Terserah, pokokya aku gak mau pacaran dengan cowok yang banyak ngomong tapi gak ada buktinya,” teriak Sri sambil berjalan ke kantin. Tapi ikbal masih mengikutinya dari belakang.
”Oke kalau mau bukti saya akan ke rumah kamu nanti sore,” tantang Ikbal sambil berbalik menuju kelasnya.
Ucapan Ikbal membuat Sri sedikit khawatir. Dia mulai berpikir bagaimana kalau Ikbal benar-benar datang ke rumahnya. Bisa-bisa dia bakal kena semprot tantenya karena punya tamu cowok.
Benar saja, Ikbal membuktikan ucapannya. Dia datang ke rumah Sri, untung saja tantenya tidak ada di rumah. Sri merasa risih dengan kehadiran Ikbal yang kembali menyatakan cintanya dengan kata-kata yang sama. Tetapi ia mengucapkan dua kata cinta, tiba-tiba dihadapan mereka muncul seekor tikus.
”Aaaaaaa....” teriak Ikbal histeris.
”Gak usah diteruskan Ikbal. Aku tidak suka dengan lelaki penakut, sori,” ujar Sri sambil membukakan pintu buat Ikbal yang mukanya memerah.
Setelah Ikbal pulang Sri tertawa terbahak-bahak.
Ha...ha...ha..thank you mouse.


Catatan: Cerpenku ini pernah dimuat di harian Fajar rubrik Cermin(cerpen mini) edisi minggu,5 maret 2006. Waktu itu aku masih kelas dua SMA, ini cerpen pertamaku yang dimuat di media cetak. Hihihi...