Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.
Tampilkan postingan dengan label Tentang Sesorang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Sesorang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Februari 2013

Selamat Ulang Tahun Nyomnyom



Saya baru sadar, bahwa orang kedua yang ingin saya ceritakan setelah cerita ulang tahun Sheni , ternyata sudah lewat, 16 Februari. Eugh, teman macam apa saya ini? Saya benar-benar lupa. Dan sialnya, di jaman iternet dengan sosial network yang hampir tiap hari kusentuh, entah kenapa tidak mengingatkan saya sama sekali. Seandainya tadi saya tidak mengeceknya langsung, mungkin saya tidak pernah tingat. :'(

Namanya Anna, kami suka memanggilnya dengan nama Nyomnyom. Dia teman yang paling banyak mempengaruhi hidurpku selama kuliah. Bagaimana tidak, sejak berkenalan di Biblioholic, saat saya masih mahasiswa baru, sampai sekarang saya belum selesai-selesai kuliah, dia tidak pernah bosan membantu saya, terutama dalam hal pekerjaan. Dari dia saya belajar banyak hal, terutama untuk bertahan hidup dengan cara yang tepat dan menyenangkan ;)

Kali pertama, dia mengajak saya bekerja sebagai asisten untuk mendampingi field trip 30 mahasiswa Seisen University dan Nagoya City University di Toraja. Kami belum begitu akrab waktu itu, tapi dia mempercayaiku untuk melakukan pekerjaan yang sama sekali belum pernah kulakukan. Hanya berbekal waktu itu saya masih di sastra Jepang dengan kemampuan bahasa yang sangat dasar, serta orang tua ku tinggal di Toraja. Saya belajar banyak hal terutama dalam menjadi seorang guide pada waktu itu, apa saja yang perlu diperhatikan, bagaimana cara bertanggung jawab pada mereka, dan sebagainya.Itu pengalaman pertamaku bekerja yang mendapat gaji.

Tidak sekali, setelah itu, saya semakin sering diberikan pekerjaan yang menurutku lumayan menyenangkan, hanya menemani para peneliti Jepang ke lokasi penelitian, saya bisa memperlancar kemampuan berbahasa Jepangku, sekalian jalan-jalan, dan dapat gaji tentunya. Hehehe...

Setelah saya memutuskan pindah jurusan kuliah, tentunya berhenti menjadi guide. Tapi Nyomnyom tetap menawariku berbagai pekerjaan, membuatkan ikat pinggang buku di tempat ia bekerja dan menjadi notulis, termasuk pekerjaan sekarang, pustakawan, dia yang merekomendasikan saya ke Marnie untuk menggantikannya selama Marnie cuti melahirkan. Saya senang karena bisa belajar mandiri dari dia. Saya menikmati hidup dengan ber-craft ria yang uang untuk membeli bahannya dari hasil pekerjaanku sendiri. Dari Nyomnyom saya juga belajar untuk tidak berhenti belajar pada banyak hal.


Saat tahu Nyomnyom mendapat beasiswa kuliah di Inggris, saya tak pernah ketinggalan membaca cerita-cerita perjalanan yang ia tulis di blognya. Dan tentu saja dari cerita seputar jalan-jalannya menjadi penyemangat bagi saya pribadi. Saya senang pada semua orang yang suka berbagi cerita melalui tulisan.

Layaknya seorang kakak perempuan, saya senang ketika Nyomnyom memberikan nasehat-masukan seputar banyak hal. Satu hal yang paling tidak bisa kutiru dari dia, kelincahannya. Saya heran apa yang Nyomnyom makan setiap hari sehingga saya tidak pernah mendapatinya tidak bersemangat, selalu lincah, apalagi kalau bercerita, sangat bersemangat. Saya ingin sekali seperti itu, supel dan ramah pada orang yang bahkan baru dikenal.

Saat membuka RnC Shop, Nyomnyom juga banyak membantuku, terutama dalam hal menyediakan buku-buku craft serta pola-pola yang ia print-kan dari kantornya. She is very very nice.

Tahun lalu, kami sama-sama terlibat di lapak gratis yang kami namai Don't Pay Its Free. Di sela kesibukannya bekerja, dia menyempatkan diri berbagi banyak hal. Itu yang kukagumi. Pertemanan kami baru sekitar 5 tahun, tapi saya merasa sudah sangat lama mengenalnya :)

Satu hal yang membuat saya merasa beruntung bisa mengenal Nyomyom dan Sheni, teman yang usianya cukup berbeda jauh dari usiaku adalah saya bisa belajar dari kesalahan yang mereka lakukan sehingga kata menyesal itu bisa kuhindari lebih cepat, tentu saja dengan menikmati hidup sesuai jalan yang kupilih sendiri.

Dear Nyomnyom, terima kasih untuk semua inspirasi dan berbagi. Selamat ulang tahun sekali lagi :)

Kamis, 14 Februari 2013

Selamat Ulang Tahun Chen Chen



Pas kelas Yubiyami

Saya punya dua orang teman yang kuanggap sebagai kakak perempuan dan sangat banyak memberi pengaruh dalam hidupku beberapa tahun belakangan. Nyomnyom dan Sheni. Tapi kali ini saya bercerita tentang Sheni lebih dulu, hari ini dia ber-ulang tahun.

Kali pertama kami bertemu di acara Minggu Ceria tahun 2009, saat itu dia masih berstatus pengantin baru ;) Saya juga berstatus baru saja menjalin hubungan personal dengan Kurns. Tapi saat itu kami belum berkenalan. Selanjutnya kami mulai sering bertemu di beberapa acara, di Idefix, beberapa kali ngobrol di lapangan basket saat malam, sampai pada kesepakatan menjadi partisipan rumah info linonipi. Kami pun banyak berbagi cerita. Berbagi banyak ide.

Sheni sangat suka kucing, sapi, dan penguin. Dia senang mengubah warna rambutnya. Kali pertama kami bertemu rambutnya merah, kali terakhir bertemu rambutnya berwarna ungu. Saya sangat suka pilihan warna rambutnya.

Sheni mengajarkan saya banyak hal, terutama craft. Dia yang mengajariku merajut pertama kali. Dalam kelas-kelas gratis di Linonipi. Serta berbagi di ruang perempuan. Selain Kurns, Sheni adalah orang yang paling banyak membantuku memaknai tentang kehidupan.

Tentu saja saya selalu mengagumi caranya menikmati hidup. Pada Sheni saya belajar untuk tidak menutup diri mempelajari banyak hal. Terlalu berlebihan kalau kubilang dia multitalenta, hehehe, tapi itu kenyataannya. Saya belajar masak, merajut, dan menjahit dari dia. Dia berbagi cerita, curhat, pengetahuan tentang obat-obatan, musik, dan mengenalkan teman-temannya yang keren.

Saat akan mengadakan Recycle and Craft Shop, dia yang paling banyak membantu, mulai dari ide, menemani berburu kain cakar, membeli bahan dan alat craft di Bandung, sampai mendekor kios.

Huaaa… kurang beruntung apa lagi saya punya teman sebaik Sheni?


Sekarang Sheni kembali menetap di Bandung. Dengan kesibukan baru belajar menggambar dan jadi Owner Skőll Bag. Padahal kami masih punya banyak proyekan menyenangkan yang belum terselesaikan, salah satunya bikin video recover lagu-lagu The Cranberries hehehe...

Satu bulan sebelum kembali ke Bandung, Sheni bercerita tentang keadaan Bapak tirinya yang sedang sekarat akibat bengkak di lehernya. Katanya, saat mendengar kabar itu dia menangis sambil berpikir bahwa ternyata ada banyak yang lebih kesusahan dibanding dirinya, selama ini dia mengira masalah yang datang terlalu berat. Mestinya kita bersyukur masih diberi kesehatan, tidak melulu bersedih hanya karena persoalan sakit hati dan semacamnya. Ya, hal-hal seperti itu yang membuat saya senang berteman dengannya, dia selalu berpikiran luas melihat satu hal.

Satu hari sebelum kembali ke Bandung, Sheni memberikan saya kenang-kenangan, gambar benang rajut dan jarumnya pada tangan kanan. Serta banyak bahan craft yang tidak ingin dia bawa ke Bandung ;)

Dear Sheni, selamat ulang tahun sekali lagi, selamat menang 3-0. Berharap bisa cicipi spaheti mu besok L

Kadang kita belajar satu hal pada banyak orang orang, tapi saya belajar banyak hal pada satu orang, kamu ;) Hehehe…

Kali ini tidak ada traktiran karaoke, tak ada Risma menempel di kaca toko kacamata dalam mall sambil menyanyi “I’m sexy and annoying” dan bikin penjaga tokonya menganga… Hehehe…

Minggu, 11 Maret 2012

Kurns, Saya Mencintai Akbar

Saya bertemu dengannya pertama kali saat perayaan May Day tahun 2008. Dia melemparkan senyum, tentu saja kubalas dengan cepat. Saat itu rambutnya masih sangat panjang, terurai. Hari itu kulihat dia sangat bersemangat, hingga perayaan usai, kami berada dalam angkot yang sama, perjalanan pulang. Setelah itu, saya tak pernah lagi bertemu dengannya. Toh, saya pun tak tahu siapa dia, tak ada alamat yang tersisa untuk mencaritahu siapa dia, dan saat itu saya tak punya urusan dengannya.

Barulah sekitar satu tahun kemudian, sekitar bulan Februari 2009, saya menemukan fotonya bersama seorang temanku di suatu jejaring sosial. Sedang menggunakan toga, dikelilingi oleh temannya. Kutanyalah temanku, namaya Dedi. Dedi kemudian menyebutkan namanya, lalu berceritalah Dedi bahwa yang wisuda itu bukan dirinya, melainkan kakaknya.

Setelah itu saya melihatnya pertama kali di kolong, fakultas Sastra Unhas. Saat sedang menikmati kopi bersama Lalat dan Nunu, dia datang menawari buku. Saya antusias mengenai buku itu, Lalat dan Nunu santai saja, padahal saya tak pernah berkenalan dengannya. Toh kemudian, cuma saya yang membeli buku yang ia tawarkan tersebut. Lalu saya meminta nomor hp nya lewat Amin, dengan maksud menagih pembatas buku yang ia janjikan beserta poster-poster yang katanya sebagai bonus buatku. Setelah itu, urusan kami selesai.

Lalu beberapa hari kemudian kami terlibat komunikasi kembali, gara-gara film. Saat itu, saya bersama teman-teman Kamp0eng Sas7ra mengadakan bedah film dan perpustakaan mini di fakultas. Saya bertugas mencari film dan menyediakan buku. Seorang teman, Wahyu, menyarankan untuk mencari film Into the Wild kepada dia, katanya dia mengoleksi film-film keren. Jadilah kami semakin sering berkomunikasi, bahkan setelah kegiatan usai. Kami sempat saling bersapa melalui email, namun kemudian dia menyerah lantaran baginya tak masuk akal kami selalu bertemu dan komunikasinya lewat dunia maya. Sepakatlah kami untuk berbincang-bincang secara langsung. Perbincangan kami selalu berlangsung lama dan tentunya selalu menarik. Dia tak suka terlibat pada diskusi yang membuat kening berkerut, begitu pula dengan saya. Setelah melewati berbagai obrolan seru, sepakatlah kami untuk jalan bersama tanpa ritual tembak menembak.

Kurang lebih seperti itu awal pertemuan kami, melalui buku dan film. Saya sangat mengaguminya karena ketertarikannya pada banyak jenis bacaan yang menarik. Dia selalu saja memberi rujukan buku-buku keren untuk kubaca. Saya sangat menyenangi laki-laki cerdas seperti dia.

Tahun lalu ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Tentu saja ini bukan hal yang begitu mengejutkan bagi saya, terlebih mamanya. Konon, saat berumur sekitar 5 tahun, saat ia ditanya akan menjadi apa? Dia menjawab ingin menjadi penjual bakso, ia memiliki keranjang sebagai gerobak bakso dengan botol bekas kemasan bedak yang dijadikan sebagai botol kecap dan sambal untuk bermain. Namun beberapa tahun kemudian, cita-citanya berubah, TAK INGIN JADI APA-APA. “Memang saat anak-anak lain berlomba-lomba menyebut dokter sebagai cita-citanya, anakku yang satu itu malah bilang tidak mau jadi apa-apa,” kenang mamanya.

Kami selalu saling mendukung satu sama lain. Dia selalu saja memberikan sesuatu yang bermanfaat pada tiap ketertarikanku. Misalnya, saat senang bermain origami dan craft, dia mendownload-kan banyak tutorial tentang itu, tiba-tiba saya tertarik ikut komunitas sketsa dia pun dengan senang hati mengantar jemput di saat dia sempat serta mencarikan panduan-panduan membuat sketsa, jika ada musisi yang kugemari dia pun akan mencarikan lagu-lagu pesananku kadang lengkap dengan videonya. Saat ini saya bekerja sambilan sebagai editor, dia pun selalu memberikan rujukan bacaan mengenai bahasa dan penggunaannya. Sedangkan buku dan film? Tak usah ditanya, saya adalah perempuan paling beruntung karena selalu mendapat kejutan darinya.

Kami sama-sama senang menulis, senang membaca, senang mendengar musik, meski pada banyak hal kami berbeda. Tapi dia adalah pacar yang bijak, sangat bijak. Berkali-kali saya melakukan kesalahan, dia menanggapinya dengan baik, tidak dengan marah, mungkin karena usianya yang lebih tua dua tahun. Dia sangat dewasa menghadapi segala hal. Dia cukup pendiam, memilih diam. Itulah sebab banyak orang yang menganggap saya beruntung karena jarang ada perempuan yang bisa akrab dengannya, dia terlalu dingin katanya. Tapi saya banyak belajar darinya, pada banyak hal. Tentu saja dialah orang yang paling berpengaruh pada hidupku saat ini, tiga tahun belakangan. Saya berhutang banyak padanya (materi dan non materi, hahaha…).

Dia satu-satunya pacar yang kukenalkan pada orang tuaku, pada keluargaku. Dia membuat saya yakin dan memilih untuk hidup bersama dengannya, tentunya sampai kami berdua bisa bertahan. Dia mengajarkan saya untuk tidak bergantung kepada siapa pun. Kami adalah manusia yang tak suka pada hal-hal yang mengekang kehidupan kami, dan berusaha untuk tidak membiarkan satu pun menentukan langkah-langkah kami. Bahkan urusan perasaan sekali pun. Selama bersamanya, saya bahkan pernah jatuh cinta pada laki-laki lain. Tentu saya punya hak, dan dia tidak menentangnya sama sekali, meski saya tahu dia bisa jadi sakit hati. Toh, kami selalu membicarakannya dan menyelesaikan jika ada masalah yang terjadi, jika tak bisa berbicara secara langsung, surat adalah alat terampuh.

Saya pernah mencintai seseorang yang calon pacarnya memanggilnya kecebong jangkung, saya juga pernah jatuh cinta pada seorang maba yang dengan polos meminta diajari pacaran ala orang dewasa. Keduanya memiliki dunia berbeda dan masing-masing menarik. Meski kemudian tidak ada yang terjadi setelahnya, sebab tentu saja mereka tak bisa menerima kalau saya lancang jatuh cinta pada mereka sedangkan saya juga memiliki pacar. Toh, saya juga belum pernah memikirkan untuk menjalin hubungan serius dengan mereka, saya belum punya alasan lebih untuk memilih mereka dibanding dengannya, pacarku.

Tentu kami juga kadang-kadang membayangkan dan membicarakan tentang sebuah ikatan pernikahan, merancang-rancang akan hidup seperti apa nantinya. Tapi itu kadang-kadang, lebih banyak kami memilih untuk melupakannya, lebih banyak kami merancang apa lagi yang bisa diraih hari ini? Hal menyenangkan apa lagi yang bisa dilakukan hari ini? Sebab hari esok pun belum tertulis…

Saya selalu merasa berkecukupan dengan kehidupanku saat ini. Mengenal keluarganya yang hangat, sambutan orang tuaku tentangnya yang baik, berbagi dengannya dan menghabiskan banyak waktu beriringan dengannya membuat saya hidup, semakin hidup!

Oya, saya lupa mengenalkannya pada kalian, namanya Akbar. Namun, konon dengan nama itu dia sakit-sakitan, akhirnya namanya diganti. Dia berulang tahun hari ini, kami selalu berusaha memberikan sesuatu dari hasil karya kami, buatan kami. Tapi kali ini sepertinya kadoku menyusul, tak tepat waktu.

Saya yakin dia tidak begitu suka cerita tentang kami disebar seperti ini, tapi saya hanya ingin berbagi kebahagian saya dengan banyak orang. Kebahagiaan saya mempunyai teman jalan seperti dia. Itu saja! Because happiness only real when share ;)

Dear you, seperti yang selalu kau katakan, seberapa hidupkah kau di usiamu hari ini?

Kamis, 08 Desember 2011

Surat Untuk Maha



Untuk Maha,

Hai, jika Maha heran, siapa saya? Kenapa bisa menuliskan surat untuk Maha. Maka jawabannya adalah, saya salah satu pembaca setia blog yang dibuat oleh Papa Bebi dan Ibu Maha. Itu saja. Tapi, serasa telah memiliki ikatan batin, Maha seperti bagian dari keluargaku, bagian hidupku.
Beberapa bulan belakangan, ada dua anak yang selalu membuatku rindu membaca kisah-kisah terhangatnya, yaitu Maha dan Kaila. Kalian sukses membuat saya selalu penasaran, seperti saya yang selalu menunggu buku terbaru Dee. Layaknya Papa bebi yang menunggu lagu-lagu terbaru Jenni. Hehehe…
Seingatku, hingga saat ini kita baru dua kali bertemu. Itupun secara kebetulan di UKPM. Selebihnya, saya banyak tahu tentang Maha melalui dunia maya. Melalui video-video yang di upload di facebook, melalui foto-foto yang diselipkan orangtua Maha di tiap postingan blog.
Tentu saja membuat saya cemburu. Pasti Maha senang punya kotak berharga penyimpan segala cerita bernama ‘www.bapakmaha.blogspot’.com. Tiap saat, Maha bisa menyelami kisah-kisah kecil yang tak mungkin semuanya bisa tersimpan baik dalam ingatan anak. Besar nanti, Maha akan banyak belajar dari kisah-kisah yang dikemas baik oleh orangtuamu. Menitikkan air mata membaca perjuangan-perjuangan sepele namun sangat berarti besar dari kedua orang tuamu. Tentu saja akan membuatmu semakin bisa memaknai hidup.
Suatu hari nanti Maha akan seperti ini “Dengan wajah menghadap ke depan dan pikiran menghadap ke belakang, kau tampak seperti mobil yang sedang mundur dengan lampu depan menyala terang” kata Tiya dalam buku yang ditulis Samarpan.
Saya banyak belajar dari tutur Papa Bebi dan Ibu Maha. Belajar menghadapi seorang anak dengan cinta, dan tentunya juga saya belajar menjadi anak yang lebih baik. Kadang juga menitikkan air mata setelah membaca kisah haru Ibu Maha. Dan menyadarkan bahwa menjadi orang tua, terlebih ibu itu tidak mudah. Orangtua Maha punya semangat yang besar, Maha harus bangga dan kelak memiliki semangat yang sama. Kadang saya jadi pesimis sendiri, kelak kalau punya anak, apakah bisa merawat dan membesarkannya dengan baik? Sepertinya saya harus belajar tegar dan kuat seperti Ibu Maha dulu baru bisa berpikir untuk punya anak. 
Saya menjadi saksi Maha tumbuh dari hari ke hari, menjadi lebih mandiri, menjadi anak yang cerdas. Pasti sangat bahagia memiliki keluarga kecil bernama cinta.
Selamat Ulang Tahun Maha, tumbuh cerdas dan tangguh! Jangan sia-siakan orang terkasihmu. Masih mengutip dari buku Tiya ‘Hidup itu tentang pernyataan yang tegas’ dan juga ‘dia yang berani berteriak tegas yang bertahan’.

Sabtu, 26 November 2011

Saya di sisi lapangan basket dari dulu hingga kini!

Dear Nakki*

Jangan menanyakan perihal aturan dalam pertandingan bola basket pada saya. Meski kita selalu bertemu di pinggir lapangan, menyaksikan permainan para pemain basket. Usah heran, saya memang menggemari permainan basket, tapi saya sekedar menonton. Itu saja.
Sebagian masa remajaku terisi dengan cerita-cerita tentang bola basket. Kau pasti tahu tentang ini.
Saya bersekolah di SMP Negeri 1 Makassar, saat pemilihan kegiatan extrakurikuler, pilihanku bola basket.  Belum sempat latihan, saya terpaksa pindah sekolah karena ikut orang tua, pulang kampung.  Ini hal pertama yang menghalangi keinginan saya bermain basket. Bersekolah di desa, akibat pembangunan tak merata, di sana tak ada lapangan basket. Bola basket ada, tapi pun jika saya jago seperti kau, tak akan bisa menikmati permainan jika di permukaan tanah yang tak rata. Bukan begitu?
Maka niat menjadi pemain basket pun hilang. Saya memilih volley. Cukup menyenangkan, dan saya sangat menikmatinya, meski beberapa kali tanganku memar oleh bolanya. Latihan keras justru membuatku malas, saya tak berniat menjadi atlit. Terdengar membosankan sepertinya.
Tiba di Sengkang, menghabiskan masa SMA sendiri, tentu saja jadi kesempatan baik untuk menghidupkan mimpi bermain basket. Saya bisa pulang hingga larut sekedar bermain di sekolah tanpa khawatir dimarahi, tak ada yang menungguku di kamar kost.
Namun lagi-lagi batal. Saya lebih dulu tenggelam di kegiatan organisasi. Lagipula, kecil kemungkinan saya bisa diterima oleh para penguasa lapangan basket sekolah jika saya tak ada modal sedikit pun. Mereka sudah terbiasa memantulkan bola, melemparkannya ke dalam keranjang. Sedangkan saya?
Tiba-tiba dia mengajakku pacaran. Seorang senior dengan tubuh  paling tinggi di sekolah. Berpacaran dengan senior keren, jago main basket tentu saja membuatku cukup dikenal oleh anak kelas dua dan kelas tiga. Sahabatku memprediksikan sebentar lagi keinginanku terwujud. Sayangnya bahkan hingga putus, dua bulan waktu kami tak pernah berada di lapangan basket. Saya berpacaran kali pertama waktu itu. 
Beberapa bulan kemudian, saya banyak dekat dengan senior-senior yang sungguh saya tidak pernah mengaturnya, semuanya pemain basket.  Membuatku malas menginjak lapangan. Mereka memintaku untuk tetap di sisi lapangan selamanya. Tentu saja membuat saya semakin jauh dengan bola basket, kecuali saat pelajaran olahraga.
Lalu kita bertemu tanpa sengaja di toko buku bekas di pasar Tempe. Kau banyak membagi kisah persahabatanmu juga tentang pertandingan basketmu. Kau membuatku iri. Tapi kita tetap bersahabat, hingga akhir, begitu katamu. Kuakui saya memang tak bisa lama-lama untuk tidak bertemu kau. Kau selalu menginspirasi tiap langkah yang kuambil. Sungguh saya banyak belajar dari kau yang kemudian memilih menjadi seorang guru.
Tapi basket selalu keren di mataku. Juga di matamu tentunya. Maaf, kalau hingga hari ini kau masih membenciku setelah insiden lemparan bolamu yang tak kutangkap lantaran saya memilih tetap menjadi penonton saja. Bukan pemain!
Penghujung SMA saya berkenalan dengan kawanan yang menyebut tim mereka 3 POINT. Saya mengagumi mereka. Tentu saja lagi-lagi mengingatmu. Mereka lincah dan sangat bersahabat. Sama seperti kau dengan kawan ‘badung’ mu. Sama seperti saya dengan kawan ‘narsis’ ku.
Begitu juga pada masa peralihanku dari SMA ke Universitas, saya berkenalan dengan tim yang salah satu diantaranya menamai dirinya ‘Akatsuki Leader’. Ia baik dan jago bermain basket, sama seperti kekasihmu Iwasaki alias Chibi. Hingga kini, teman-temannya pun masih menjalin pertemanan yang baik denganku, bahkan seorang dari mereka menekuni Sastra Jepang, sastra negaramu. Beberapa hari yang lalu kami bersama di pinggir lapangan menyaksikan pertandingan.
Saya akan selalu menggemari pinggir lapangan daripada tengah lapangan. Toh itu akan membuat posisiku selalu nyaman. Tanpa beban. Tanpa rasa was-was karena takut tak terpilih tahap seleksi yang tak pernah seksi di mataku. Tanpa rasa benci setelah kekalahan atau kemenangan.
Pertandingan lebih banyak menghadirkan permusuhan. Dan saya lebih senang menertawai mereka yang larut dalam permusuhan itu. Tak sulit menemukan mereka. Biasanya mereka selalu buru-buru, mimik wajahnya penuh murka dan dengki. Mereka sombong. Belum lagi sang pelatih yang, ah saya tidak suka cara mereka meneriaki para pemain dengan penuh emosi.
Serta tetap mengagumi mereka-mereka yang selalu bermain santai, ramah, bersahabat, tanpa gegabah dan kecurangan tentunya. Sebab hidup hanya permainan, bukan pertandingan. Kemenangan dan kekalahan hanya bagi mereka yang gila urusan dan sok pintar. Saya tetap mengagumi caramu bermain basket, selamanya! Terima kasih telah mengajariku banyak hal memandang kehidupan.
*Nama aslinya Kitashiro Naoko, sahabatku yang juga kebetulan jadi tokoh komik Popcorn karangan Yoko Shoji.

Selasa, 23 Agustus 2011

We Love AL


Satu hal yang selalu membuat kami berdua (me and Wancrut) rindu tak tertahankan adalah serunya bermain-main dengan Valdish. Gemesssss...

Selasa, 29 Maret 2011

Tentang Muhammad Salim



Sesi foto bareng saat perkuliahan berakhir

Kemarin, dosen yang cukup kukagumi di Sastra Daerah meninggal dunia. Kami memanggilnya Pak Salim. Beliau meninggal dalam usia 75 tahun.

Saya hanya sempat berguru pada beliau selama satu semester. Tepatnya pada mata kuliah Kajian La Galigo dan Kemahiran Menulis Bahasa Bugis semester lalu. Saya cukup merasa kehilangan. Tak banyak orang yang memiliki pengetahuan luas seperti beliau mengenai lontara.

Saya selalu mengagumi beliau, daya ingatnya cukup kuat, mengingat usianya yang semakin senja. Perbincangan menarik selalu terjadi pada jeda kuliah antara kuliah Kemahiran Menulis Bahasa Bugis dan Kajian La Galigo. Beliau selalu menceritakan kepada saya tentang pengalamannya saat masa penjajahan Jepang, bagaimana di sekolahnya para siswa dipaksa untuk bisa menyanyikan lagu-lagu Jepang untuk membuat para tentara Jepang senang, dan hebatnya hingga kini beliau masih ingat lirik-lirik lagu tersebut. Saya sangat bersyukur, karena sempat diajar oleh beliau.

Awal perkuliahan saya sempat tak menyukainya lantaran beliau sangat tegas dalam mengajar. Sampai buku yang digunakan untuk menulis harus buku dengan merek yang ia tentukan. Tidak boleh tidak. Itu yang membuat saya sempat kesal, sebab buku yang dimaksud tak ada dijual di dekat pondokanku. Saya membeli buku merek lain, meski kemudian saya harus membeli baru sebab tidak seperti yang ia inginkan. Belakangan, pada saat belajar menulis aksara-aksara dengan menggunakan tinta cair saya baru sadar kalau buku yang ia maksud berguna sebab kertasnya tebal sehingga tak tembus.

Saya mengagumi keuletan dan pengabdian beliau. Hingga ia wafat, ia bisa menyalin dan menerjemahkan banyak naskah lontara ke dalam bahasa Indonesia, diantaranya adalah Sureq La Galigo sebanyak 12 jilid, Lontara Sidenreng, Lontara Soppeng/Luwu, Budhistihara yang berisi nasihat keagamaan, Pappaseng, dan masih banyak lagi kukira. Sumbangannya sangat banyak bagi perkembangan pengetahuan. Dan tak banyak orang yang mau peduli tentang itu. Beliau mengabdi di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, meskipun tak diberi honor empat tahun belakangan ini. Tapi tak ada yang menyurutkan semangatnya untuk terus menerjemahkan lontara.

Saya ingat perkataan beliau ‘Selagi ada waktu, kalian harus belajar banyak tentang La Galigo dari saya, silahkan fotocopy aksara-aksara ini, masih untung kalau tahun depan saya masih hidup’. Sayangnya saya hanya sempat meng-copy sebuah naskah ‘Musu Maranakna La Galigo’ lengkap transliterasi dan terjemahan buah tangan beliau.

Ini saya iseng-iseng menggambar pas Pak Salim menjelaskan tentang Musu Maranakna Lagaligo ^_^

Perkuliahan berakhir di penghujung semester, dan Pak Salim tak begitu puas lantaran tidak sempat membimbing kami agar bisa menyanyikan La galigo dengan benar. Tak banyak yang pandai menyanyikannya kini. Sungguh suatu penyesalan sebab melewatkannya.

Saya belajar banyak dari beliau walau hanya satu semester. Meski tangannya sudah gemetaran saat menulis di papan tulis, tapi beliau tetap gigih datang mengajar kami. Rajin masuk kelas memberikan kuliah. Saya sepakat dengan penutup profil beliau yang ditulis Maria Serenade Sinurat dalam Koran Kompas pada tanggal 15 Maret 2011, ‘Warisan Salim ialah penerjemahan I La Galigo, dan dunia patut berterima kasih kepadanya.’

Saya yakin, banyak yang merasa kehilangan atas wafatnya beliau.


Berikut link yang saya sarankan yang memuat tentang beliau:

Kompasiana

Indonesiaproud (tapi artikelnya dari KOMPAS)


Sabtu, 26 Maret 2011

Bertemu Andreas Harsono lagi!

(fotonya kuambil dari sini)
-->
Kemarin sore, saya ikut diskusi Identitas yang menghadirkan Mas Andreas Harsono sebagai pembicara. Sebenarnya itu bukan diskusi terbuka, hanya untuk kalangan anggota identitas. Tapi beruntung ada kak Nilam. Makanya saya bisa gabung. ^_^
Sebenarnya ada rencana ketemu-ketemu sama para peserta menulis adalah laku kebajikan, tapi tak kunjung ketemu waktunya. Jadi saya memilih ikut diskusi ini. Daripada tidak ketemu sama Mas Andreas? hehehe...
Pembicaraan dibuka dengan suatu hal yang menurut Mas Andreas sendiri bisa mengejutkan, tapi menurutku tidak. Yakni, dia mengusulkan bagaimana kalau Identitas memikirkan untuk STOP CETAK dan mulai merancang untuk koran online. Tentu saja dengan alasan, mengikuti perkembangan jurnalisme internasional. Walaupun akan ada hal-hal yang kurang menguntungkan akan timbul. Seperti yang terjadi di Amerika, sepertiga wartawannya kehilangan pekerjaan akibat banyak media yang beralih dari offline jadi online.
Saya sendiri sah-sah saja dengan usul itu (toh saya bukan anak Identitas ji, hehehe). Toh, memang baik buruknya tergantung kita yang mengarahkan. Sejauh ini saya menganggap internet bagus dan banyak membantu. Ya, selama saya masih bisa mengendalikan diri untuk tidak kecanduan bermain-main di dunia maya. Sehingga saya masih bisa hidup tanpa internet. Sebab di mana-mana hal yang berlebihan itu buruk bukan?
Pembicaraan dilanjutkan dengan paparan Mas Andreas tentang perkembangan teknologi komputer awal hingga kini. Juga diberikan perbandingan pedapatan Google yang tahun lalu mendapat laba bersih 6.500 triliun, dengan perusahaan Indosat di Indonesia yang hanya 2 triliun dua tahun lalu. Sangat berbeda bukan?
Ada satu peranan wartawan yang akan lenyap beriring maraknya koran online, yakni ‘Gate Keeper’. Jika di koran-koran cetak, tugas wartawan adalah penjaga pagar agar berita yang dimuat bisa berimbang bahkan lebih banyak berpihak pada masyarakat yang ditindas, maka dengan munculnya media online, akan susah membedakan mana informasi yang benar-benar sudah disaring oleh para wartawan. Tentu saja tak ada yang bisa melawan ini jika sudah berhadapan dengan internet. Satu-satunya cara ialah pandai-pandainya kita (masing-masing personal) menyaring informasi yang beredar. Tantangannya lebih besar bukan?
Sehingga, dengan begitu, wartawan dihadapkan dengan peranan yang lebih besar. Yakni:
1. Autenticator;
2. Sense maker;
3. Investigator;
4. Event witness;
5. Empower;
6. Rule model;
7. Smart aggregator;
8. Forum organizer.
Perbincangan selanjutnya sampai pada teknik-teknik penulisan berita. Model straight news, feature, essai, dan narasi. Juga Bagaimana pengambilan berita itu diutamakan untuk veirifikasi dulu. Tidak sering-sering menggunakan teknik investigasi. Juga teknik memilih narasumber yang baik. Yakni orang pertama, bukan pada narasumber kesekian. Tentu saja tidak berpegang pada orang-orang yang menyebut dirinya pakar, pengamat, atau pemerhati.
Tidak lupa untuk selalu menyebutkan nama narasumber. Sebab narasumber yang tidak mau disebutkan namanya adalah orang-orang yang mau lempar batu sembunyi tangan. Kecuali untuk alasan:
1. Dia sumber lingkaran pertama
2. Jumlahnya lebih dari satu orang
3. Bisa membahayakan dirinya (dibunuh atau dianiaya) jika namanya disebut.
4. Integritasnya baik
5. Motivasinya menyampaikan fakta untuk kepentingan public
6. Seijin redaktur (melalu editing berkali-kali)
7. Ada perjanjian batal pemuatan berita.
Saya teringat lagi sama materi-meteri kelas menulis yang diadakan panyingkul dua tahun lalu dalam rangkaian ulang tahun Panyingkul yang ke-2. Juga kembali ingat sama tugas yang hingga kini belum saya rampungkan. Menulis 5000 kata. Bahannya sudah kukumpulkan sejak tahun lalu. Tapi saya terlalu sibuk dengan hal-hal baru, teman, aktivitas, jurusan kuliah, tempat nongkrong, dan kekasih. Makanya sampai sekarang saya belum merampungkannya. Dan ini yang membuat saya agak malu ketemu sama Mas Andreas. Hehehe…
(foto ini kuambil dari album Anies di FB)
Seperti biasa, diskusi ditutup dengan makan-makan. Pertama kue-kue buatan kak Nilam yang betul-betul enak. Kemudian dilanjutkan dengan makan malam. Kami makan di Rumah Makan Seafood Lae-Lae. (Awalnya yang mau mentraktir Mas Andreas, tapi Anies dari Identitas yang lebih dulu membayar, ^_^) Hal yang tak kalah menarik dari pertemuan ini adalah, saya bisa berkenalan dengan beberapa wajah baru, yang tak lain anggota Identitas. Seperti Fadli, Icha, dan Anies.
Mas Andreas bilang, kenapa saya berubah jadi pendiam dan feminim yah? (kebetulan saja Mas, saya akhir-akhir ini lebih memilih banyak diam saja, hehehe)
Saya kagum dengan kehidupan Mas Andreas. Walaupun tidak begitu kenal, sebab kami hanya bertemu empat hari dalam kelas menulis dua tahun lalu. Selebihnya saya mengenalnya melalu tulisan-tulisannya. Juga setelah pertemuan beberapa jam kemarin dalam acara diskusinya di Identitas. Saya senang dengan orang-orang yang mengerti bagaimana menyikapi perbedaan dengan cara yang menyenangkan. Bukan dengan peperangan. Terlebih saya bisa belajar dari pengalaman-pengalamannya membantu mengadvokasi kelompok-kelompok minoritas yang kebanyakan ditindas.
Saya sepakat dengan pemikirannya tentang ‘agama semestinya tidak diurus oleh negara’ (silahkan baca tulisannya di sini) sebab terbukti itu akan mengacaukan negara sendiri. Akan selalu ada agama yang dinomor satukan, dan ada yang dinomor duakan. Lantas, jika begitu dimana letak kebebasan memeluk agama?
Andreas Harsono, menurutku sangat berani. Kalau tidak percaya, baca saja tulisan-tulisannya mengenai Orang Madura di Kalimantan, orang Aceh, orang Papua, Ahmadiyah, dan lain-lain di Blognya.
(foto oleh Kak Iwan, waktu pelatihan Menulis Panyingkul!)
Oya, satu lagi, Mas Andreas tambah tua kok tambah kelihatan cakep dih? ^_~