Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Rabu, 28 September 2011

Syal Ikat Batak

Masih ingat tentang cerita jalan-jalanku menemani 4 orang kawan dari Medan ke Malino? Beberapa waktu lalu, temanku Panji berkeliling liburan di Pulau Sumatera. Saya menitip beberapa kain khas Toraja buat mereka lewat Panji.
Saat Panji kembali ke Makassar, ternyata Elfa mengirimiku syal ikat mini. Keren sekali, sekarang syal itu bergantungan di ranselku dan selalu bersamaku ke mana-mana.
Terima Kasih ya Elfa :)
Someday I will meet you there...

Senin, 26 September 2011

Pengalaman membuat tempat hardisk dari tas leptop


Ini pesanan Rudi, pengalaman pertamaku bikin tempat harddisk seperti ini, cukup lama baru bisa dapat ide polanya. Sebelumnya pernah membuat tempat harddisk untuk Kurns, tapi jahit tangan dan terbuat dari bahan felt, jadi cukup simpel. Kali ini murni ribet menurutku, soalnya berlapis-lais kain serta jahit mesin. Karena kewalahan, untuk proses menjahit mesin, saya minta tolong sama Mama Esa, tetangga kamarku. Semacam kolaborasi lah, hehehe.
Dan tadaaaa...menurutku lumayan lah, entah dengan si pemesan! Belakangan saya baru tahu, si Rudy sengaja memesan dua untuk diberikan ke temannya satu, Haris. Oya, masih ada sisa kainnya, cukup untuk satu tempat hardisk lagi. Sekarang sementara proses pengerjaan, buat Kurns tentunya ;)

Yubiyami Biru Putih


Yubiyami buat tanta Anna (maaf yah, lambat...hampir setahun baru bisa beli benang) :)

Minggu, 25 September 2011

Tangga yang setia pada anaknya

Menapaki saat
Menentukan waktu
Nada mampu tersusun rapi
Menemukan simphoni yang indah
Meski tak berseteru
Sebab selalu ada yang tetap tinggal
Walau tanpa bekas

Kamis, 22 September 2011

Pocket Book pesanan Adi

Masih ingat ceritaku waktu memenangkan giveaway pocketbook dari Mbak Tarlen? Setelah sukses membuat pocketbook pertamaku, dengan mengikuti tutorial menyatukan kertas dari Mbak Tarlen juga, saya membuat pocketbook lagi. Kali ini jadi proyek kolaborasi dengan Kurns. Adi (teman di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa UH) mendambakan pocketbook sebagai perekam perjalanannya ke mana-mana. Jadilah dia meminta desain ini itu, lalu Kurns yang desainkan dan terakhir saya yang menyempurnakannya jadi pocket book. ^_^

Bahannya, sampul yang sudah di desain dan dicetak kertas foto (sesuai selera lah, saya kebetulan cuma punya kertas foto, hehehe). Terus supaya gambarnya tidak tergores, saya memilih stiker pelapis di sampulnya. Alatnya, gunting, cutter, kertas, jarum besar, sama benang. :)

Proses menjahit kertasnya bisa kalian lihat di tutorial yang kusebut di atas, tinggal klik ;)

Selasa, 13 September 2011

My Second Favorite T-Shirt, ASIAN DUB FOUNDATION

Tadaaa...ini t-shirt kedua, setelah My Favorit t-shirt yang diberikan Kurns. Bajunya kubeli dengan harga Rp.2000,- di stand CAKAR pasar Tarowang, Jeneponto sekitar dua tahun lalu. Terus, TOMSKY sahabatnya Kurns (yang sama-sama punya proyek sablonan dengan Kurns) dengan senang hati menyablonkan desain logo Asian Dub Foundation,
yang asli keren dan saya suka. Oya, tahun lalu,
saya juga mengenal Asian Dub Foundation pertama kali karena diperdengarkan oleh Tomsky,
dan saya langsung menyukai musik dan lagunya...coba deh sendiri...

Thanks, Tomsky...mudah-mudahan sekaleng kue lebaran bisa menghilangkan lelahmu saat menyablon kemarin :)

Dan saya sangat pede (berharap) saya satu-satunya pemilik kaos keren ini di Makassar, hahaha...

Senin, 05 September 2011

Kotak Kenangan SMA

Oya, satu lagi oleh-oleh saat liburan lebaran kemarin, cerita tentang dua kardus dokumen peting selama SMA.
Karena rumah kontrakan mamaku di Toraja sudah hampir penuh oleh barang-barang (mamaku hobbi sekali beli panci soalnya), akhirnya sebagian barang-barangku waktu SMA dititip di rumah tanteku di Wage. Sampai kami punya rumah sendiri :)
Saat saya buka-buka kembali, wah...ingat masa SMA ku yang asli super seru. Mengingat lagi semua teman-teman seperjuangan (ngekk...apa yang pernah diperjuangkan?).
Salah satu kebiasaan saya sejak dulu adalah menyimpan semua kenangan dalam bentuk kertas sehingga bertumpuklah dokumen-dokumen kenangan yang sangat sayang untuk dibuang. Saya percaya tulisan adalah salah satu artefak paling berharga untuk mengetahui sejarah, setuju?
Makanya sejak dulu saya senang menulis. Apalagi saya memilih jurusan bahasa yang asli lebih banyak praktek menulis memang. Ckckck...saat membaca ulang semua dokumen ini saya  geli sendiri, hihihi...saya pernah merasakan jadi ABG Labil setelah membaca surat-surat, konsep-konsep cerpen, dan kumpulan SMS penting menurutku ternyata, hahhay...

Ini berkas-berkas waktu saya jadi pengurus Mading sekolah, penuh dengan kertas warna warni :)
Foto-foto yang kukumpulkan saat SMA beserta negative film- nya
Ini kartu ucapan valentine pertamaku yang diberikan seorang cowok waktu SMP kelas 3, hihihi...

Penghujung SMA, saya beserta geng gila NARSIS (saya jadi menejer mereka, satu-satunya perempuan soalnya), tiba-tiba diusik oleh sebuah surat dari seorang adek kelas kami, Andi Ima. Eh, belakangan surat menyurat kami menjadi seru dan ternyata si Andi Ima justru menyatakan diri mengagumi perkumpulan kami, hehehe...I miss her.




Saya punya beberapa konsep puisi, yang saat kubaca saat ini, bikin malu saya sendiri. Tak menyangka pernah melalui proses menulis puisi yang asli gaya anak SD sekali, hihihi...

Ini adalah kertas bekas stiker yang diberikan tanteku, kujadikan lembaran pencatatan konsep-konsep cerpen dan beberapa sms teman-temanku, terutama Peri Curhatku, Beyi :)
Ini juga dua lembar kertas yang berisi sms berbalasan dengan seorang teman yang menyebutku Minori, dan saya menyapanya Junot Dg. Marukka. Kalau di sekolah kami bahkan hanya beberapa kali bertegus sapa, tapi kalau lewat sms, ckckck...dia teman yang cerdas, dan penyemangat saat-saat kami akan menghadapi ujian SMA.




Saat kelas dua, saya menjadi salah satu panitia Latihan Kepemimpinan Siswa, karena saya tak begitu galak (susah berakting sangar bagi saya :p) makanya saat para siswa baru disuruh menulis surat cinta kepada senior, saya mendapatkan paling banyak surat cinta, hahhay...suratnya dari Obeck, Reza, Ismail Bojes, Wiwin, A. Muhaimin, dan Ahmad Yani.

Oleh-Oleh Liburan Lebaran 2011

Selamat Lebaran, saya hanya bisa menghadirkan bingkisan cerita dan tentunya foto-foto yang kuambil dari telepon genggamku untuk kalian sebagai oleh-oleh lebaran.
Lebaran kali ini saya merayakannya dengan pulang ke kampung halaman Ettaku (di Bugis sebagian besar dari kami memanggil Bapak dengan sapaan Etta) yaitu Wage.  Sebuah kampung di samping sungai Walennae di Sengkang. Mungkin kalian pernah membaca reportaseku berjudul mencari sutera asli di wage? Di sanalah saya berlebaran :)
Saya menuju Sengkang pada malam hari tanggal 29 Agustus 2011 bersama kawanku Abot. Cukup lama kami menunggu di terminal hingga mobil penuh penumpang lalu berangkat. Padahal saat menuju terminal kami buru-buru lantaran takut kehabisan mobil. Kami salah kaprah. Kemudian saya singgah bermalam di rumah teman SMA ku A.Rima, karena angkot ke Wage cuma ada sampai pukul 5 sore, sedangkan saya tiba di Sengkang pukul 1 malam.
Hari pertama di Wage, saya menjahit tas yang sudah lama kugunting polanya, rencananya akan disablon oleh Kurns lalu dijual (proyek rumah tangga, hahhay).
Hari kedua, batal lebaran, kami lalu ke kuburan kakek nenek dari pihak bapakku untuk memperbaikinya, karena di Wage sering banjir, tanah kuburannya menjadi rendah.

Hari ketiga, lebaran. Sorenya kami ke Soppeng, tepatnya di Gayya Baru.




Hari keempat, pagi kami ke Citta, sambil mengunjungi rumah keluarga, kami menyempatkan mandi-mandi di kolam Citta. Siangnya kembali ke Wage, perjalan hanya memakan waktu sat jam. SInggah ziarah kubur sebentar, lalu berangkat menuju Kaluku. Ternyata keluarga besar mamaku sedang berkumpul di Salobulo, makanya setelah singgah dari Paria menemui ponakan yang baru lahir, kami menginap juga di Salobulo.










 Hari kelima, mamaku, ettaku, adekku Upi dan Aldi balik ke Toraja. Saya tinggal di Kaluku, sorenya saya kumpul-kumpul dengan se genk waktu SMP, hehehe...
 Hari keenam, ziarah kubur kakekku dari pihak nenek, lalu ke Bulete. Sorenya saya kembali mengunjungi nenek Salama, yang kuceritakan dulu, beliau adalah salah satu dari beberapa orang yang tersisa masih pandai massureq. Setelah magrib, saya pun kembali ke Makassar:(