Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.
Jumat, 31 Desember 2010
Aoiniji's birthday part 1
Aduuuuuhhhh...bingungku...ulang tahunnya blog-ku sudah dekat tapi belumpi ketemu template yang cocok...Oya saya sudah 3 tahun mengelola blog ininanti pada tanggal 19 Januari...lama tong dih?Ya, walaupun ndak sering update apaaaakah...Tapi mulai ni tahun semoga saya punya waktu deh
Rabu, 22 Desember 2010
Siapa bilang UKMMenulis mati?

Saya sangat menyayangkan jika ada yang beranggapan UKMM kini tengah mati...
Toh, ukuran mati atau tidaknya suatu organisasi menulis bukan diukur dengan sebanyak apa kegiatan yang dilakukan pada satu periode, setumpuk apa tulisan yang dilahirkan oleh anggota-anggotanya, dan sebanyak apa terbitan-terbitan yang berhasil dicetak.
Selama saya bergabung di UKMM, satu hal yang membuat saya betah adalah UKMM adalah organisasi menulis yang membuat orang-orangnya hidup. Hidup yang kumaksudkan di sini adalah, tidak terkekang. Kita tak harus menghabiskan banyak waktu memperdebatkan AD ART yang sangat memuakkan.

Menulis adalah laku kebajikan yang tak menuntut apa-apa. Kegiatan yang membebaskan manusia. Jadi tak perlu ada batasan sejauh mana kalian bisa dianggap penulis atau tidak. Toh, kegiatan menulis juga tergantung apa tujuan kita menulis.
Jika kalian berpikir masuk UKMM sebagai batu loncatan untuk menjadi penulis terkenal, kalian bisa meraihnya. Sebab menulis kegiatan individual. Yang dibutuhkan hanyalah dukungan, maka sebuah perkumpulan dibutuhkan adanya.
Tak peduli kali ini tak bisa menerbitkan apa-apa, toh kita tetap eksis menulis, di blog masing-masih, menulis di NOTE Facebook, membuat zine pribadi, ataupun menulis diary.
Kita masih eksis menulis, bukankah itu tujuan UKMM?
Yang penting tetap menulis bukan?
Jadi, kapan kita berkumpul lagi? Saling mencallai tulisan? Saling mengkritik tulisan? Aku merindukan kalian...
Jumat, 17 Desember 2010
Rencana Liburan Natal dan Tahun Baru

Begh...libur hampir tiba...
Di sela-sela kerja tugas final, saya sudah
merancang beberapa kegiatan yang akan menjadi pengisi waktu libur nanti...Lumayan banyak, sampai-sampai saya tidak yakin waktu liburnya cukup atau tidak...hmmm
1. Ini yang berhubungan dengan kegiatan perkuliahan: Urus penyetaraan nilai setelah transfer dari Sastra Jepang kemarin.Kalau nilai mencukupi, mau KKN profesi, supaya waktu luang lebih banyak, bisa melakukan banyak hal juga
2. Seperti biasa, saya sudah bosan dengan tampilan blog ini, idenya sih bikin header dengan gambar sendiri...tapi masih bingung gambar apa bagus?
3. Mau bikin zine craft...terinspirasi dari beberapa blog keren salah duanya adalah Virtalenology Bandung, dan Ojanto Yogyakarta.
4. Selesaikan orderan tulisan tentang Toraja dan Tole Ico.
5. Bikin kegiatan seru dan selesaikan rajutan, dari kelas rajut di Infohouse Linonipi.
6. Mulai kembali beraktivitas di Biblioholic.
Sepertinya masih ada...oh ya...baca buku!!!
Wah...pasti seru...
Rabu, 15 Desember 2010
Senin, 13 Desember 2010
Tips beli oleh-oleh di Kuta, Bali
Hay, saya punya beberapa tips berbelanja oleh-oleh di Bali, ini berdasarkan pengalaman pribadiku:
1. Sebelum berangkat catat nama-nama yang akan kalian bawakan oleh-oleh nantinya. Ini untuk menghindari ada yang terlupa, ini juga kadang masih ada yang terlupa, apalagi kalo ndak dicatat jauh-jauh hari.
4. Jangan belanja terlalu boros!!! Beli yang sesuai kebutuhan, ok!
Itu saja, saya tidak menyarankan kalian sering-sering belanja. Hanya saja, siapa tau ini bisa membantu untuk menghemat. Souvenir di Bali itu bikin ngiler...apalagi gelang-gelangnya...hehehehe...
Seandainya turuti kemauan memiliki yang tinggi, pasti saya sudah borong semua jenis barang-barang di sana. Untungnya, saat belanja saya selalu banyak pertimbangan, termasuk "ah, bisaja bikin yang beginian, jammi beli deh..." ^_~
1. Sebelum berangkat catat nama-nama yang akan kalian bawakan oleh-oleh nantinya. Ini untuk menghindari ada yang terlupa, ini juga kadang masih ada yang terlupa, apalagi kalo ndak dicatat jauh-jauh hari.
2. Kalau kalian jago menawar, silahkan berbelanja di pasar tradisional. Tapi bukan sembarang pasar. Ada beberapa pasar di Bali yang terkenal dengan barang murahnya, Pasar Seni sama Sukawati. (Kalo kalian jago nawar ji nah)
Pasar seni, Kuta
3. Untuk yang tidak tau menawar lantaran bingung kisaran harga barangnya berapa, mending ke toko-toko oleh-oleh yang grosiran plus lengkap. Saya sendiri memilih ini. Karena selain tidak jago menawar, waktu saya untuk berbelanja oleh-oleh juga sempit, jadi cari yang bisa hemat uang sekaligus waktu. Apalagi kalau di pasar, terkadang si penjual langsung kasih harga super tinggi. Jadi kita serasa tidak enak menawar super rendah, buntut-buntutnya menyesal. Di Bali ada beberapa toko souvenit grosiran nan lengkap, seperti Krisna dan Kumbawati. Tapi jangan tanya alamatnya ke saya, waktu itu nasib kami hanya bergantung pada supir taxi, yang jelas di Kuta. ^_^4. Jangan belanja terlalu boros!!! Beli yang sesuai kebutuhan, ok!
Itu saja, saya tidak menyarankan kalian sering-sering belanja. Hanya saja, siapa tau ini bisa membantu untuk menghemat. Souvenir di Bali itu bikin ngiler...apalagi gelang-gelangnya...hehehehe...
Seandainya turuti kemauan memiliki yang tinggi, pasti saya sudah borong semua jenis barang-barang di sana. Untungnya, saat belanja saya selalu banyak pertimbangan, termasuk "ah, bisaja bikin yang beginian, jammi beli deh..." ^_~
Sabtu, 11 Desember 2010
Putu Nangis di Makassar, Putu Cucu’ di Sengkang
Putu Nangis alias Putu Ayu.
Foto : Eka Besse Wulandari.
Makassar. MalamFoto : Eka Besse Wulandari.
Seorang tua mengayuh sepeda bergerobak samping. Obor menyala di sudut gerobaknya. Isinya tak lain sebuaah kompor mini serta alat dan bahan untuk membuat putu ayu.
Ngiiiikkkk…ngiiikkk…
Bunyi yang mengiringi kayuhannya. Bunyi yang mengingatkan kita pada suara tangis. ,Dan karenanya, orang-orang di Makassar menamai putu ayu yang dijajakan orang tua itu dengan “putu nangis”. Dan karenanya wajar jika kurang mengenal nama aslinya.
Putu ayu adalah penganan berbahan tepung beras. Seperti kue tradisional lainnya, membuatnya mudah. Tepung dicampur air daun pandan lalu dibiarkan sedikit kering. Dikukus dengan cara dimasukkan dalam cetakan berbentuk silinder lalu ditaruh di atas panci kukus. Tak lupa dimasukkan taburan gula aren di tengah putu. Hanya setengah menit, putu sudah siap makan lengkap dengan taburan kelapa.
Setelah salat magrib, bunyi ngik-ngik biasanya sudah terdengar di sekitaran pondokanku, di danau UNHAS, yang juga dikenal dengan sebutan pintu nol. Biasanya teman pondokan pun telah siap dengan piring masing-masing. Bersiap memesan dan menikmati manisnya putu nangis beraroma pandan.
Adalah Budi, penjaja putu langganan kami Menurut Mas Budi-saya memanggilnya seperti itu-- putu itu berasal dari bahasa Jawa yang berarti cucu.
Konon ada seorang nenek yang membuat kue putu (saat itu belum bernama) untuk cucunya. Lalu seorang datang bertanya
“Nek ini kue apa?”
Maklum sudah tua, nenek mengira orang tersebut menanyakan untuk siapa kue itu diberikan. Nenek pun menjawab “putu!” sebab ia memang membuatkan kue itu untuk cucunya.
Menurut Budi, putu ayu atau putu nangis di Sulawesi Selatan sudah ada sekitar tahun 80-an. Dibawa oleh orang Brebes, Jawa Tengah. Menurutnya pula para pedagang putu ayu yang ada di Makassar berasal dari satu kampung yang sama dengannya, yaitu Brebes. Budi sendiri telah berjualan putu kurang lebih 10 tahun. Selama kurun waktu tersebut ia pernah berganti jualan bakso, tapi akhirnya kembali lagi menjual putu karena banyak saingan.
Dengan berjualan putu, Budi mampu manghidupi istri dan anaknya yang hingga saat ini sudah SMP di kampungnya. Ia lebih memilih tinggal di Makassar bersama seorang rekannya dan sesekali pulang kampung.
Terkadang Budi merasa risih karena masyarakat di Sulawesi Selatan ini terlalu tinggi gengsinya. Ia selau merasa di anggap remeh oleh ibu-ibu pembelinya.
“Saya heran juga, kenapa ya orang sini tidak ada yang coba jualan putu? Padahal gampang lho membuatnya dan tidak ribet bahannya. Hasilnya pun menguntungkan,” ungkapnya dengan logat Jawa campur Makassar.
Lain dengan Yahya, juga berasal dari Brebes. Sudah 16 tahun di Makassar menjual putu ayu. Tidak pernah berganti dagangan. Ia tinggal di Pampang,Makassar bersama 10 orang rekannya yang juga menjual putu ayu. Menurutnya ada kurang lebih 100 orang Brebes yang menjual putu ayu di Makassar. Di kampungnya sendiri, justru kurang yang berjualan putu ayu. Mereka lebih banyak merantau untuk berjualan.
Sama dengan Budi, Yahya juga perantau yang keluarganya di kampung. Biasanya ia pulang kampung 4-5 bulan sekali.
“Awalnya kami jualan putu pake pikulan, di Brebes sampe sekarang juga masih ada yang kayak gitu. Tapi supaya hemat tenaga makanya pake sepeda. Kalo di Sumatra orang jualan di warung, nggak keliling,” jelas Yahya, juga dengan aksen Jawa tambah sedikit Makassar.
Jika musim hujan, keduanya tetap berjualan. Selalu ada payung di sisi gerobak mereka. Berjualan putu ayu, tidaklah susah. Bahkan menyenangkan bagi mereka. Hanya saja ,terkadang yang membuat mereka selalu was-was jika malam mulai larut dan dagangan belum habis. Seringkali mereka dapati orang yang tengah mabuk dan terkadang mengganggu mereka.
Mengenai alasan mengapa lebih memilih berjualan pada malam hari, Budi mengatakan makanan khas Sulawesi Selatan biasanya di jual pada pagi hari sampai siang. Makanya mereka lebih memilih malam hari. Juga karena putu ayu enak dimakan pada saat udara dingin, karena disajikan dalam keadaan hangat.
***
Sani sang pakar putu cucu` di Sengkang.
Foto: Eka Besse Wulandari.
Sengkang. Pagi
Jikalau Anda mengunjungi Kota Sengkang Kabupaten Wajo silakan berjalan santai di pagi hari. Beberapa di sudut kota Sengkang ada tongkrongan yang terkadang ramai oleh orang yang sedang menunggu pesanan. Mereka antre di gerai yang buka hanya pada pukul 4 subuh hingga pukul 9 pagi. Tersedia berbagai penganan. Putu cucu’ salah satunya.
Jenis putu satu ini rasanya asin. Berbeda dengan putu ayu. Lalu apa gerangan kemiripan putu ayu dengan putu cucu’?
Kedua kue putu ini sama-sama berbahan tepung beras. Ya, semua kue putu saya rasa terbuat dari tepung beras. Lalu sama-sama dikukus. Keduanya sama-sama menggunakan kelapa sebagai pelengkap. Nah, yang menjadi bahan kemiripan kedua putu ini adalah putu ayu dan putu cucu’ sama-sama menggunakan cetakan pipa dalam bahasa bugis disebut timpo.
Asal kata cucu’ ini berasal dari cara membuatnya. Yaitu disodok.Karena bahasa Bugisnya menyodok adalah ma’cucu’.
Cara membuat putu cucu’ sama dengan cara membuat putu ayu. Bahannya saja yang berbeda. Untuk membuat putu cucu’ membutuhkan tepung beras biasa Campur tepung beras ketan dengan perbandingan 2:1, tambah garam secukupnya dicampur air juga secukupnya. Untuk bungkusan cukup dengan daun pisang. Sangat sederhana.
Supaya lebih enak menikmati putu cucu’, biasanya saya dan keluarga meremasnya sebelum membuka bungkusan daunnya. Kata Bapak saya, supaya kelapanya meresap ke dalam putu. Lebih gurih rasanya.
Di sekitar pusat perbelanjaan kota Sengkang saya sering menemui dua tongkrongan penjual panganan putu cucu’. Satunya di bagian depan jalan Jawa, sedangkan satunya di bagian ujung jalan Jawa.
Adalah Indo` Selo yang berjualan di bagian depan Jalan Jawa. Ia mengaku sudah lima tahun berjualan putu cucu’. Ada dua jenis putu cucu’ yang selalu ia sediakan, yaitu pulu’ bolong dan pulu’pute. Masing-masing berarti ketan hitam dan ketan putih. Menurut pengamatannya putu pulu’ pute lah yang paling laris.
Per hari Indo Selo bisa menghabiskan 8 liter tepung beras, bahkan di hari libur bisa sampai 10 liter. Dari situ keuntungan yang ia peroleh mencapai 50-70 ribu rupiah setiap hari. Ia berjualan putu mulai pukul 4 subuh sampai 9 pagi. Setelah itu ia menjual di warung sarabba yang tak jauh dari tempatnya berjualan putu sampai jam 12 malam. Sebab ia single parent maka ia haru berjuang keras untuk menafkahi anaknya.
Menurut Indo Selo ada sekitar 20 orang yang berjualan putu cucu’ di kota Sengkang. Salah satunya Sani tempatnya berguru lima tahun lalu.
Sani berjualan di bagian ujung Jalan Jawa kota Sengkang. Ia mengaku sudah 10 tahun menggeluti pekerjaannya itu. Sani setiap harinya berjualan mulai pukul 3 subuh sampai pukul 9 pagi. Lebih awal karena pedagang pasar di sekitarnya juga selalu memesan lebih awal.
Setelah berjualan putu, ia kembali ke rumah dan menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga. Karena itu selain menjual putu, ia juga menjual sokko’ atau songkolo dalam bahasa Makassar dan surabeng sebagai penambah penghasilan.
Ketiganya banyak dicari dan memang nikmat disantap pada pagi hari.
Kalau Mas Budi di Makassar bercerita tentang asal-usul kata kue putu berasal dari baha Jawa, Sani di Sengkang mengatakan ia yakin putu itu berasal dari bahasa bugis.
Bagi saya, meski sulit membuktikan apakah Mas Budi atau Sani yang benar, yang jelas putu buatan mereka enak dan selalu membuat rindu. (p!)
Rabu, 08 Desember 2010
Perjalanan Seru #1
Kelas Origami #1
Saya sedang senang-senangnya membuat origami (baru belajar yang paling dasar) eh tiba-tiba diajak ajari anakanak bikin origami. Pesertanya adalah anak-anak yang gabung di Sekolah Rakyat di Kera-Kera. This is my first class ^_^
Kalau anak UNHAS, pasti tau lokasi ini...(IPTEKS)
Karena sekolahnya di Kera-Kera, si Bu Guru Debra memilih belajar origami kali ini di sini supaya lebih terjangkau oleh saya, katanya.
Kalau anak UNHAS, pasti tau lokasi ini...(IPTEKS)Karena sekolahnya di Kera-Kera, si Bu Guru Debra memilih belajar origami kali ini di sini supaya lebih terjangkau oleh saya, katanya.
Senin, 06 Desember 2010
Minggu, 05 Desember 2010
Rame-rame daur ulang yuk!
Sejak isu global warming marak, orang serentak berlomba-lomba berbuat kebajikan untuk menolong bumi yang sekarat. Nah, sejauh ini apa saja yang kalian lakukan? Rame-rame jadi donatur Greenpeace? atau rame-rame ikut komunitas Bike to Work? Tiba-tiba rajin belanja dengan isu anti golbal warming? Pokoknya asal ada label mendukung anti pemanasan global kalian ikuti dan konsumsi? Supaya dibilang peduli lingkungan?
Tapi kalau masih saja gila belanja, apapun alasannya, bagi saya sama saja bohong. Karena kemasan produknya itulah yang jadi cikal bakal kenapa bumi ini semakin panas.
Kalo saya sendiri, mencoba untuk menyimpan sampah-sampah yang bisa diolah lagi. Jadinya di kamar saya ada tempat khusus untuk itu

Salah satu dari sampah itu, kujadikan seperti ini:


Tapi kalau masih saja gila belanja, apapun alasannya, bagi saya sama saja bohong. Karena kemasan produknya itulah yang jadi cikal bakal kenapa bumi ini semakin panas.
Kalo saya sendiri, mencoba untuk menyimpan sampah-sampah yang bisa diolah lagi. Jadinya di kamar saya ada tempat khusus untuk itu

Salah satu dari sampah itu, kujadikan seperti ini:


Langganan:
Postingan (Atom)


























