Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Minggu, 13 Maret 2011

Oleh-oleh dari Jepang


Ini oleh-oleh paling kunanti dan paling kusukai tentunya. tiga hari yang lalu, sahabatku Ninis, juga anak Sastra Jepang UNHAS kembali setelah mendapatkan kesempatan belajar di Jepang selama 2 pekan. Jauh hari saya memang menitip ini, kertas origami berbagai motif khas jepang. Asli ini cantik sekali, ada 20 motif yang berbeda, saya jadi merasa sayang untuk menggunakannya, hehehe...

Keenam, dua gulung kertas washi polos berwarna putih dan pink dari dua temanku di Sastra Jepang Eni dan Yusran senpai. Tahun lalu mereka dapat beasiswa ke Jepang, seandainya saya masih di Sastra Jepang mungkin saya juga bisa ikut yah? hehehe...

Kelima, foto-foto yang diambil waktu field trip di Toraja.
Beberapa minggu setelah field trip berakhir, Fukutake sensei bersama istrinya mengirimiku foto-foto ini.

Keempat, waktu itu saya diajak oleh Ni Nyoman Anna mendampingi field trip 30 mahasiswa dari Seisen University dan Nagoya City University ke Toraja dan pulau Barang Lompo. Pada saat bulan ramadhan di tahun 2008. Salah satu dari peserta field trip itu memberikan dua buah kipas, tapi yang satunya diambil sama temannya sepupuku T_T
Pengalaman yang sangat seru bisa berkenalan dengan orang asing pastinya! Hingga kini saya masih menjalin komunikasi dengan beberapa diantara mereka, terutama Madoka Abe, Mari Isobe, dan Ryo Yoshikawa. I miss you all...

Ketiga, sapu tangan yang diberikan oleh Maya, pendiri Honobono,
dia bawa dari Jepang sewaktu menghadiri pernikahan dr. Maiko.

Oleh-oleh kedua, satu paket kertas origami bermotif sakura.
Diberikan oleh donatur Honobono, dr. Maiko, orang Jepang juga ^_^

Ini oleh-oleh pertamaku dari Jepang, diberikan oleh teman pertamaku orang asli Jepang, namanya Fumiko.
Oleh-oleh ini diberikan sekitar tahun 2007.

3 komentar:

Nhinis mengatakan...

Hohohohoh....
Untunglah kalau dirimu suka, soalnya sy cari kertas flanel ndak nemu -_-"

*shanti yani* mengatakan...

sy juga ada oleh2 dari prof. Eiji, dosen pembimbing suamiku berupa kipas kertas. katanya itu yg mahal karena kayu bahan kipasnya harum, jadi kalo kipasnya di kibaskan, angin yg diciptakan juga harum

Ekbess mengatakan...

@Santi: Oya? ada fotonya? kipas kertasku pasti ndak mahalji karena ndak harum belah, hihihi...

@Ninis: Pastimi iya kusuka, sangat malah! skali lagi thanks nah!

^_^