Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Rabu, 28 Januari 2009

Mencari Sutra Asli di Desa Pasaka

ini tulisan kedua!
senangnya karena bisa menulis sesuatu yang kusukai dan berkaitan dengan kampung halamanku
jika anda ingin melihat komentar pembacanya silahkan kunjungi Panyingkul.com


Dua bulan yang lalu saya mendapat hadiah sarung sutra dari ibu. Katanya bukan orang Sengkang Wajo kalau tidak punya sa’be, begitu orang Bugis menyebut kain sutra. Namun ketika saya memperlihatkannya pada seorang tante, ia bilang hadiah itu bukanlah sutra asli. Kainnya terlalu lembek.

Akhirnya dalam kesempatan liburan ke Sengkang bulan lalu, saya pulang kampung membawa sarung sutra itu. Tujuan saya, menemui penenun sutra di kabupaten Wajo untuk mencari tahu, seperti apa gerangan sutra yang asli itu.

Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo dikenal sebagai kota sutra. Kabupaten ini memang penghasil sutra utama di Sulawesi Selatan. Hampir setiap kecamatan memiliki usaha tenun.

Di sejumlah kawasan kota Sengkang, kita akan disambut dengan ramainya suara alat tenun yang ada hampir di setiap kolong rumah penduduk.

Taktak…tuktuk..taktak…tuktuk… Begitu bunyi alat tenun tradisional itu.

Jika ingin melihat kegiatan penenun yang paling ramai, Anda bisa mengunjungi Sempange. Di sana Anda sekaligus bisa berbelanja sutra secara langsung dari pemilik pusat pertenunan. Ada beberapa toko sutra terkenal di daerah yang terletak di perbatasan kota Sengkang ini.

Namun untuk membandingkan keaslian sutra milik saya ini, saya lebih memilih mengunjungi desa Pasaka, kecamatan Sabbangparu. Di sana saya punya banyak sanak keluarga yang berprofesi sebagai penenun. Jumlah penenun di desa ini tak kalah banyak dibandingkan di Sempange. Hanya saja nama desa ini kurang dikenal karena letaknya lumayan terpencil dari kota Sengkang. Lagipula jalanan menuju desa ini belum mulus. Karena letaknya tak jauh dari sungai, maka bila sungai meluap di musim hujan, terkadang air naik ke permukaan jalanan.

Di rumah seorang tante di desa Pasaka terdapat alat tenun. Orang Bugis menyebutnya tennung bola-bola yang arti harfiahnya “alat tenun rumah-rumahan” –mungkin karena modelnya seperti kerangka rumah atau karena ditempatkan di kolong rumah. Saya lalu memperlihatkan sarung sutra hadiah dari ibu itu. Beberapa penenun yang sedang berkumpul beristirahat secara bersamaan mengatakan itu bukan sarung sutra asli, meski bahannya sutra juga.

“Tongeng sa makkeda sa’be ero, tapi’na narekko idi pakkibu sa’be masitta yisseng makkeda palsunna ero.”

Maksudnya, “Memang itu adalah sutra, tapi kami yang penenun sangat mudah mengetahui ini sutra palsun.” Demikian kata salah seorang penenun di sana.

Saat ini kebanyakan penenun sutra Sengkang tak lagi menenun benang sutra asli dalam negeri. Juga tak semua komponen kain berbahan sutra. Hal ini dikarenakan produsen benang sutra dalam negeri sudah sulit ditemukan. Tentunya harga bahan bakulah yang menyebabkan hal itu terjadi. Mau tak mau para penenun pun harus mencari akal agar tak rugi.

Immas, salah satu penenun sutra di desa Pasaka sedang mengerjakan tenunan dengan benang sutra India. Jenis kain yang ia buat pun bukanlah sarung. Melainkan kain untuk bahan pakaian.

Menenun adalah pekerjaan yang sulit. Sebelum memulai kegiatan dorong tarik jakka tennung atau sisir tenun, benang helai per helai dimasukkan dalam tiap are’. Selanjutnya helai per helai kembali dimasukkan dalam sisir tenun. Ini khusus untuk tennung bola-bola atau tenun rumah-rumahan.

Biasanya tennung bola-bola lebih banyak digunakan untuk membuat berpuluh meter kain. Sedangkan untuk membuat sarung menggunakan tennung walida, tenunan ini tidak terlalu banyak menggunakan alat besar dan rumit seperti tennung bola-bola.

Namun Immas lebih memilih menenun menggunakan tennung bola-bola karena menggunakan alat ini ia tak perlu mengeluarkan modal materi sepeser pun. Segala sesuatunya dibiayai oleh tetangganya yang memang disebut bos tennung. Mulai dari alat tenun sampai pada benang ditanggung oleh sang pemilik tenunan. Immas hanya tinggal menenun benang yang telah disediakan.

Bos tennung Immas bernama Cora. Ia memiliki banyak tennung bola-bola dan dipinjamkan pada orang-orang yang ingin menenun. Immas membawa tennung bola-bola pinjaman Cora ke kolong rumahnya agar ia bisa leluasa mengerjakan pekerjaan rumah di sela kesibukannya menenun.

Kali ini Cora memberikan pekerjaan tenun kain sepanjang 150 meter kepada Immas. Dalam sehari Immas hanya mampu menenun sepanjang 4- 5 meter. Perempuan berusia 23 tahun ini mengaku belum terlalu lihai menenun, jika dipaksa untuk menenun banyak, hasilnya tidak akan memuaskan. Kadang-kadang setelah cukup 20 meter, Cora akan datang untuk memotong kain yang telah jadi. Immas digaji Rp2500 per meter. Sedangkan hasil tenunan Immas dijual seharga Rp25.000 per meter. Tentu saja keuntungan penjualan itu menjadi hak bos tennung sepenuhnya.

Sebagian besar perempuan seusia Immas dan belum berkeluarga di desa ini lebih memilih menjalani profesi penenun. Meskipun ada satu dua yang bekerja di kota Sengkang sebagai penjaga toko. Mereka merasa terbantu dengan kehadiran para bos tennung. Katanya, lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Di desa ini saya juga bertemu penenun yang sudah renta. Ia dipanggil Fukkami’ oleh orang yang lebih muda.

Di wilayah kampung Wage-nama dulu desa Pasaka, Fukkami’ adalah satu-satunya penenun berusia lanjut yang masih menenun. Namun ia lebih memilih memakai tennung walida karena ia bisa menenun di teras rumahnya. Mengingat ia juga tidak terlalu banyak memiliki tenaga untuk menginjak ajena tennung bola-bola, pedal yang harus secara terus menerus diinjak oleh penenun.

Kini, Fukkami’ adalah satu-satunya penenun yang masih menggunakan tennung walida di desa ini. Menenun dengan menggunakan tennung walida membutuhkan banyak proses. Tenunan ini milik Fukkami’ pribadi. Seluruh proses produksi hingga penjualan, ditangani sendiri oleh perempuan ini.

Untuk membuat sebuah sarung sutra, Fukkami’ membutuhkan waktu 10-30 hari. Sarung yang ia buat adalah sarung sutra asli. Selembar sarung ia jual seharga Rp300.000-Rp400.000. Dari hasil penjualan selembar sarung saja, ia mengaku sangat terbantu untuk membiayai hidupnya seorang diri, setelah suaminya meninggal dan anak-anaknya merantau di Kalimantan.

“Biasanya banyak orang seumuranku menenun tetapi kini semuanya sibuk mengurus anaknya. Saya sendirian saja, tidak lagi mengurus apa-apa,” tutur Fukkami’ sambil memperlihatkan beberapa sarung karyanya.

Sayang sekali ketika saya datang, Fukkami’ telah merapikan seluruh alat tenunnya. Ia baru saja selesai mengerjakan selembar sarung sutra.

Saat saya membandingkan sarung sutra yang ada di tangan, ternyata memang sangat berbeda sarung sutra buatan Fukkami’. Sarung buatannya mengkilap dan agak keras. Sedangkan milikku lembek dan tidak memancarkan kilau.

1 komentar:

eNDieL mengatakan...

hai Aoi Niji,,
sy tertarik dgn artikel ini,,jdi pengen liat desa pasaka juga,, ^_^
sy jg org makassar,tpi blum pernah ke sengkang,,oia,bisa nda sy minta alamat jelasx desa pasaka ini,,klo bisa rincian perjalananx klo dr makassar,,
email ke immank.stelk@gmail.com
trima kasih ^_^