Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Jumat, 07 Desember 2012

Cukupkah dengan Go Green, Ramah Lingkungan, Ekologis, dan bla bla bla?



(Sumpah ini bukan iklan saya :D)

 foto dari sini
Saya mengenal beberapa teman yang hobby dan merasa sudah turut membantu melestarikan lingkungan jika membeli produk-produk yang ber-logo Green, Ramah Lingkungan, Ekologis, bla bla bla. Paling parah sampai memilih berbelanja di supermarket A dibanding supermarket B hanya karena plastiknya yang berlogo “degradable”. Padahal mereka tidak pernah menge-cek langsung apakah benar produk itu ramah lingkungan? Siapa yang tahu kalau logo kemasan produk mengenai lisensi ramah lingkungannya adalah logo yang mereka buat sendiri alias hanya untuk menarik perhatian kostumernya?
            Tentu saja beberapa tahun belakangan produk berbau Green, Ramah Lingkungan, Ekologis, bla bla bla ini bermunculan di mana-mana, sejak isu global warming juga dibicarakan di mana-mana. Yang membuat saya kemudian jengkel dan sedikit marah (entah sama siapa, hehehe) karena begitu gampangnya orang-orang dipengaruhi oleh dua isu besar ini. Padahal, belakangan yang gencar memasarkan produk dengan sisipan ramah lingkungan itu kan perusahaan besar. Bersama pemerintah, mereka melakukan kampanye besar-besaran agar kita semua merasa wajib dan turut merasa bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan dan mencegah dampak pemanasan global. Dampak dari apa yang sebenarnya mereka adalah penyebab utamanya : menebang hutan seenaknya, menyebar polusi dan limbah besar-besaran, dan tawaran gaya hidup yang tidak ramah lingkungan. Semua itu, siapa yang mampu melakukan selain perusahaan besar dan dukungan pemerintah?
            Setelah kita terpengaruh dan tergugah karena merasa kitalah yang menyebabkan bumi ini rusak, beramai-ramailah kita meneriakkan anti pemanasan global. Dan berkat dukungan pemerintah dengan sokongan dana dari perusahaan besar (baca: greenwashing) maka maraklah kita mengadakan berbagai kegiatan kampanye dan terbentuklah berbagai komunitas yang bertujuan untuk mengurangi dampak pemanasan global itu. Muncul-lah aksi tanam berjuta-juta milyaran pohon yang kadang diselingi agenda kampanye politik, setelah itu tak ada yang peduli apakah bibit pohon itu tumbuh atau mati. Diadakanlah konser, bazaar, dan acara amal  bertajuk pelestarian lingkungan yang memakan dana berpuluhan juta, dan setelahnya sampah bertebaran di mana-mana. Berbagai perusahaan berlomba-lomba menjadi sponsor acara ramah lingkungan, padahal produk yang mereka buat sangat berbahaya bagi lingkungan. Diadakannya tempat sampah yang terbagi atas sampah kering dan sampah basah, namun pada proses pengangkutan sampah, tetap saja dicampur dalam satu truk. Dan tentu saja menyerbu produk-produk asal ber-logo Green, Ramah Lingkungan, Ekologis, dan bla bla bla…
            Faktanya adalah mereka sang dalang (baca: pemerintah dan pengusaha perusahaan) yang turut andil atas rasa khawatir kita yang berlebihan mengenai pemanaan global, tetap dengan gaya hidup mereka yang sama sekali tidak Green, Ramah Lingkungan, Ekologis, dan bla bla bla… Mereka menggunakan mobil ke mana-mana (not bike to work), tetap menggunakan tissue di setiap aktivitas mereka, buang sampah di sembarng tempat, jika berbelanja tidak pernah menggunakan tas kain, sama sekali tidak berminat untuk Hemat Energi (apalagi mematikan listrik meski hanya se-jam), sedangkan aktivitas daur ulang? Mana mereka sempat?
            Setahun lalu, saya mengikuti KKN Penanganan sampah Kota yang tentu saja mengandung sisipan sesuatu di dalamnya, saya ikut karena kebetulan gratis dan saya butuh nilai KKN untuk menyelesaikan studi tentunya. Selama hampir dua bulan, saya bersama seluruh peserta KKN pusing sendiri bagaimana melakukan penanganan sampah di kota ini. Masalahnya begitu kompleks. Jalan keluarnya? Bahkan saat penarikan tiba, kami hanya bisa melakukan hal-hal kecil, sedanya dan semampu kami. Menangani sampah kota itu, nihil.
             Saya teringat pelajaran agama Islam waktu SMA, konon tujuan manusia diciptakan ke dunia sebagai khalifah untuk menjaga bumi bersama isinya. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata : ‘Mengapa Engkau hendak menjadikah (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Quran : Al Baqarah ayat 30)
            Jika benar itu tujuan kita manusia diciptakan, maka beruntunglah kita yang tidak begitu banyak terlibat dalam pengrusakan bumi. Tapi ngomong-ngomong, Malaikat ada benarnya, manusia memang hanya membuat kerusakan dan gemar menumpahkan darah. Kalau begitu, mungkin saja apa yang diramalkan suku Maya mengenai kiamat tahun 2012 ini adalah benar. Kiamat mungkin bagi suku Maya adalah tumpahnya darah akibat peperangan di mana-mana dan bumi yang semakin rusak. Tentu saja akibat dari haus kekuasaan dan keserakahan beberapa pihak yang takut hidup sederhana.
            Kembali ke pembahasan mengenai Go Green, Ramah Lingkungan, Ekologis, dan bla bla bla. Kenapa kita masih harus percaya dengan produk-produk yang semakin membuat kita tak yakin itu? Kenapa bukan kita saja yang membatasi diri untuk mengurangi hasrat berbelanja? Kenapa tidak untuk memakai lagi apa yang kita punya? Berbagi dengan teman? Mendaur ulang sendiri barang yang sudah tak dipakai? Dan mencoba memenuhi kebutuhan yang bisa dibuat sendiri?

3 komentar:

Insomnia_Kuroi mengatakan...

cool, and agreed!
:D

selalu sepakat denganmu mengenai hal ini :)
Bonoism suck, aren't it?
:p

Ekbess mengatakan...

Hahaha... tapi saya suka suaranya om Bono :p

Rhyfhad mengatakan...

Maaf numpang berteduh sekaligus baca2 tulisan2nya.. terimakasih..