Ada orang-orang hidup tanpa hirarki sosial, tanpa hak kebangsawanan atas tanah atau monarki, kadang bahkan tanpa pemukiman atau kota-kota. Tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah sesungguhnya kondisi 'alamiah manusia'.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Mendadak Jadi Pedagang Benang

Suatu pagi saya menerima sms dari mamaku. Entah kenapa, tiba-tiba ia menawarkan modal untuk kupakai membuat usaha. Katanya sih untuk tambah-tambah uang belanja, juga supaya banyak kegiatan. Padahal kalau mau dihitung, saya malah terlalu banyak berkegiatan, sampai sering kewalahan membagi waktu.
Setelah balas ber balas sms, jadilah kesepakatannya saya menerima modal 1 juta rupiah dari mamaku untuk jualan benang rajut. Meskipun mamaku setuju setelah cukup lama saya meyakinkannya bahwa keuntungan yang kudapat lumayan lah. Padahal siapa yang tahu? Itu cuma dalih agar saya bisa mengakses benang-benang rajut yang asli sulit ditemukan di Makassar. Masalah keuntungan, saya tak begitu peduli. Saya tak pernah memimpikan jadi kaya raya kok! Jadi mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya bukan paham ekonomi yang kuanut ;p
Sudah beberapa bulan kelas merajut di Linonipi mandek sebab tak ada bahan. Saya pun, meski sudah mendownload banyak tutorial merajut, tetap saja malas belajar sendiri.
Di Makassar kurang yang tertarik dengan kegiatan merajut, dibandingkan kota-kota besar di pulau Jawa (menurut pengamatan pribadiku dari kenalan perajut lewat dunia maya loh!). Bisa jadi bukan karena tidak berminat, tapi tak ada yang menjadi pemantik atas itu, kalau dihitung toko kerajinan tangan yang lengkap juga cuma beberapa. Jadi wajar menurutku kalau sampai saat ini teman-temanku sering mengatakan ‘banyakna itu waktumu, sempat-sempat merajut kayak nenek-nenek…mending beli!”
Saya sendiri baru kenal dunia merajut karena keseringan berkunjung di blog para crafter favorit ku, salah satunya Virtarlenology. Ditambah Sheni yang berbaik hati membuka kelas merajut di Linonipi, itupun karena memang ia belajar di Bandung (oya, Sheni itu asli orang Bandung yang tinggal di Makassar beberapa tahun ini). Juga belajar dari Valery, seorang teman dari Jerman yang hobby merajut sambil jalan-jalan ke berbagai tempat di berbagai negara, kalau benang habis, ia lebih memilih mencari pakaian rajutan bekas (beli di CAKAR) lalu diurai menjadi benang, siap untuk merajut!
Jadilah saya ikut kecanduan, apalagi pada finger knitting alias Yubiyami. Makanya saya sangat mendambakan perlengkapan belajar merajut yang lengkap ada di Makassar. Mumpung mamaku berbaik hati, jadilah saya jualan benang rajut saat ini :)
Saya masih selalu senang hati membuatkan berbagai pesanan kerajinan tangan teman-temaku selama ini, asal mereka mau bersabar...kita akan selalu berbagi tentunya dengan cinta.
Saya sendiri tak pernah memikirkan akan bagaimana jadinya usaha jualan ini, yang penting saat ini benang sudah di tangan, kelas merajut mulai berjalan lagi! Kita bisa berbagi banyak hal tentunya!

5 komentar:

Ary Caeno mengatakan...

Smangat banget.., good luck. Smoga apa yg diharapkan bs tercapai...

bintangdansampah mengatakan...

Mantapz nii ..
keren .. keren ..

Ekbess mengatakan...

Terima Kasih Ary & Bintang :)

Samuri Chan mengatakan...

wahhh,,, pengen banget belajar merajut.. Klo ada kelas merajut aku ikut dung :D

salam bloofer ^o^

alfia mengatakan...

salam kenal,
kapan lagi nih ada kelas merajutnyaaaa....saya mau donggg ikuttttt......mau skali...tolong diinfokan ya....(^_^)